Superman Logo Pointer

Senin, 30 Desember 2013

Yang paling mahal

Aku kehilangan apa yang aku butuhkan disaat aku sedih. Aku memang mempunyai sebuah guling, tetapi guling empuk ku itu tidak punya tangan serela kamu juga tak bisa menggantikan senyummu. Akupun sempat salah menilai, banyak mainan didunia ini tapi hatimu bukanlah salah satunya. Hampa. Entah dimana akan aku temukan apa yang aku rindukan. Aku kehilangan.
Ku temukan sesuatu yang baru, ia adalah elok yang paling penuh akan ketulusan . Banyak senyum bahagia terurai namun tak seindah senyumku saat bersamamu. Sampai hampir mual aku dibuatnya, perhatian perhatian kecil yang ia berikan begitu menenangkan namun tak sanggup menggantikan. Dengan sedikit kepura-puraan, aku bisa membuatnya tersenyum. Dengan sandiwara, aku bisa membuatnya percaya. Namun cinta butuh isyarat adanya dan ia memiliki hukum sendiri seperti apa yang dikatakan orang yaitu karma. Dengannya, aku mengerti apa arti makmur. Mengapa? Karena apa yang aku inginkan, ia selalu sangggup berikan. Entah, mungkin ia melihatku sebagai bidadari AXE sehingga ia selalu melihatku sempurna dimatanya. Namun aku rindu kesederhanaan. Aku rindu dikala aku butuh atau ingin pergi kesuatu tempat dengan kekasihku, aku atau bahkan kita mengabulkannya dengan usaha bukan rengekan. Ia bisa menuruti apa yang aku minta kecuali waktu. Barang bisa dibeli dengan uangnya, sekalipun itu iPhone generasi ke 8 atau bahkan 10. Tetapi tidak dengan kesibukannya, buatku lebih penting mencari kutu dibulu kucing daripada mengerjakan kesibukan-kesibukannya.

...


Aku mencintaimu, entah darimana aku mendapat kekuatan itu. Aku tau ini hal yang tidak mudah untuk membuatmu yakin, terlebih mereka. Kau boleh melihatnya (dibaca: kesalahan-kesalahan yang sudah berlalu). Sekarang siapa sangka kau kembali datang ke hati ini? Kau boleh melihatku sebagai orang yang gila harta semenjak menjalin hubungan dengan sesosok pria itu. Kuakui kemapanannya, tapi kau... kau adalah yang handal dalam urusan tatap menatap, kau juga yang piawai mengusir lara, dan menerjangku dengan sejuta perbendaharaan kata. Kini, aku ingin senyummu disetiap waktu yang kumiliki. Aku ingin suaramu disetiap sunyi yang ku hadapi. Aku ingin matamu ditiap hebat apa yang kulakukan. Aku ingin tawamu disetiap esok yang kupunya.
Sayang, aku lupa letaknya hati. Yang kuingat ada didengkul, rela kupakai untuk berlutut minta senyummu. Aku rela bila itu jatuh ditengah jalan lalu terinjak roda hidupmu. Kau memang tak selalu mengabulkan apa yang ku minta tapi setidaknya kamu adalah apa yang selalu ada, pula sedih menerpa... pundak dan pelukmu akan segera tiba. Aku sadar, waktu lebih mahal dari boneka, baju, cokelat, ice cream, Xbox maupun iPhone.

Minggu, 29 Desember 2013

Waktu.

Aku adalah seseorang yang tidak baik, lalu Tuhan mendatangkan orang lain yang lebih baik untuk membantu kekasihku menyakitiku secara baik-baik. Aku senang membuatmu tersenyum, tapi kamu lebih senang tersenyum tanpa aku. Itulah cara yang pernah kamu jelajahi sendiri untuk pergi dan yakin akan bahagia jika tanpa aku.
Lupa atau bahkan tidak ingat sama sekali? aku adalah apa yang pernah kamu perjuangkan secara mati-matian. Jujur saja, semenjak kamu pergi cinta jadi aneh bentuknya. Tergambar kecil dari mata yang bengkak. Sempat, kamu sempat sanggup mencintaiku tapi takut mengakuinya. Juga, seringkali saat kau marah lalu lupa perasaanku. Kau keraskan hatimu, aku remuk didalamnya.
Seiring berjalannya waktu aku rasa kamu sangat sanggup dan sangat handal mengenali duniamu sendiri tanpa adanya aku disampingmu. Akupun memilih untuk belajar perlahan melepas kamu, melupakan kamu, memasa bodo kan apapun tentang kamu. Meski sangat sulit, aku tetap berusaha karena melihatmu begitu mudah melalui itu semua.
Kita melalui hari secara berjauhan, terasa sama walau dengan orang yang berbeda. Aku tak tahu menahu kabarmu, begitupun sebaliknya. Kadang aku ingin kamu menjadi kita lagi, tapi semua sirna setelah aku melihat kebelakang. Apa harus sesederhana kah itu untuk aku bangkit dari semua ini? Yaitu, bilang saja kamu tidak mencintaiku dan anggap aku tak pernah ada! aku pernah mengatakan padamu, entah kamu lupa atau menolak lupa "Aku tidak hanya mencintaimu dengan sangat, tapi aku juga mampu menyayangi mereka. Keluargamu" namun kini, entah bagaimana aku mendeskripsikannya, yang jelas jarak diantara kita mengahncurkan semua kenangan kenangan manis sehingga menimbulkan celah yang jelas bisa dimasuki dnegan kenangan manis yang baru.
Setengah tahun berlalu, aku masih merasa mampu tanpa kamu. Sangat mampu namun belum terbiasa. Ketika saatnya aku menyadari kamu telah menjalin hubungan dengan orang lain. Entah sudah sampai tahap berapa, aku tidak ingin mengetahuinya. Sungguh, aku muak. Aku memilih beranjak pergi. Aku merasa sudah melupakanmu, namun mengapa begitu pedih ketika aku tau kamu sudah benar benar berani untuk menjalin hubungan dengan orang lain yang bukan aku. Aku tidak tahu apa yang sedang kau rencanakan demi kita berdua, itu disaat kau melewati malam dengan dirinya. Dulu, kamu yang membangunkanku tidur, sekarang mimpi buruk yang melakukannya. Aku memafkan tapi tak sanggup meupakan. Inikah yang disebut luka?

...

"Kita mulai dari awal lagi ya"
Hari demi hari kita lalui bersama kembali, bukan dengan janji namun kebaikan dan kekuatan yang dilalui. Setahun berpisah mungkin sedikit bisa melupakan kesalahan-kesalahannya yang sudah lampau. Luka dihubungan kita dulu, kini berangsur pulih diisi oleh apa yang disebut cinta. Ku bawa kau kedalam doa agar apa yang pernah terjadi sebelumnya akan tergantikan dengan sesuatu yang bahagia. Sekarang, semua terasa seperti kemanapun akan ku cari, sampai kapanpun akan ku nanti, rindu tidak mengukur jumlah, karena kita benci angka seperti kita tidak tahu jumlah rambut kita sendiri, jangan tanya mengapa kita kembali dan bisa seperti ini, sebab cinta akan selalu menjadi jawabannya.
atau seperti Aku cinta masalaluku, walau ia pernah berlalu mencintaiku, aku masih selalu mencintainya.
Percayalah sayang! Walau pernah aku hinggap dipohon seberang, sayapku tetap mengepak ingin selalu bergegas pulang ditengah biru yang kian perlahan hilang dan kau sempat bahagia walau kita tidak dipohon yang sama, pula bersama sayap sayap yang lain. Jadi, tolong! jangan kau haramkan tenagaku yang telah terbang membanting tulang. Hanya demi dirimu yang selalu aku sayang diantara segala sarang.
Setahun perpisahan kita membuat aku mengenal siapa kamu sesungguhnya. Maka, bila suatu hari kau amnesia dan lupa pada dirimu sendiri. Kau boleh tanya padaku, aku ingat banyak yang baik tentang dirimu.
Dulu maupun sekarang, aku adalah kamu dan kamu adalah kita. Ada sesuatu yang mengembalikan kebahagiaan kita; waktu.

Jumat, 27 September 2013

Keseharianku adalah mencarimu, merindukanmu adalah hal yang menyakitiku.

Kita  sama sama bertahan diatas hubungan tanpa kejelasan, saling diam dalam rasa nyaman dan selalu memasa bodo-kan pentingnya sebuah status. Kadang memang aku merasa tak dianggap. Tapi, rasa bimbang lebih menang dari segala rasa yang ada saat ini. Ingin melanjutkan terus kedepan dan bergandengan tangan tetapi bisa saja ada yang merasakan kesakitan, entah itu aku ataupun kamu nantinya. Namun jika memilih mundur terasa sangat sayang sekali karena terlalu banyak cerita yang sudah dilangkahkan sangat jauh.
“Aku kayak gini karena aku ngga mau kehilangan kamu”
Terasa tak asing telingaku mendengarnya. Selalu ku lempar pertanyaan yang sama seperti biasanya.
“Kamu yakin ngga mau kehilangan aku?”
Dan kamu juga selalu menjawab dengan pertanyaan yang sama.
“Mau sampe berapa ribu kali lagi kamu ngasih pertanyaan itu ke aku?”
“Cewek mengulang pertanyaan yang itu itu aja karena dia nunggu sebuah jawaban yang jelas, tauk!”
“Sebuah jawaban yang jelas atau sebuah jawaban dan kejelasan nih?”
Ah kamu ini... selalu pintar mengondisikan apa apa yang sudah mencapai puncaknya. Pada akhirnya aku kembali lupa soal apa yang harus kita pokok-kan yaitu sebuah kejelasan. Benarkah aku ini terlalu menaruh hati pada hubungan kita? Tapi yang aku rasakan, kamu pun begitu juga. Katamu, bukankah hanya aku yang selalu ada dalam setiap rasa lelahmu dan mau mendengar cerita ceritamu? Bukankah sudah jelas bahwa kita mempunyai perasaan yang sama? Yang tak ingin merasakan kehilangan dan kekecewaan?
“Aku mau tau dong kamu punya doa apa setiap shalat buat kita?” Tanyaku ditengah kesibukanmu yang sedang membuatkanku susu hangat malam itu.
“Itu kan privasi”
“Privasi atau emang kamu ngga pernah ngedoain kita?”
“Kamu selalu punya pertanyaan yang intinya memaksa aku ngejawab yaaa”
Aku hanya menatap mukanya, menantang dengan lugas.
“Aku selalu berharap kalau hati kamu ini ngga terlalu buta buat ngeliat siapa sih yang selalu berjuang dalam hubungan ngga jelas kita ini”
“Persoalan ngga jelas jangan kamu jadiin perkara, toh kamu sendiri yang ngebawa hubungan ini berlarut larut danpergi tanpa terarah”
“Pada intinya, aku ngerasa kalau aku berjuang sendirian disini. Kamu seperti terhanyut dalam nyaman walau tanpa kejelasan”
“Gimana aku ngga nyaman, kamu ngebawa aku kesuatu ruang yang aku ngga ngerti tujuan dan maksudnya. Kamu ini selalu me-nina bobo-kan aku disituasi apapun”
“Kamu sayang sama aku?”
“Kalo aku nyaman, aku udah pasti punya perasaan sayang kekamu”
Terhenti pada suatu pembahasan yang tak menemukan titik klimaks, kamu memilih pergi. Inilah sebuah kejelasan. Kejelasan yang tak pernah terfikir akan terjadi didalam benakku. Kamu memilih pergi dengan sejuta tanda tanya yang tertinggal, memilih diam tanpa arah, memilih untuk menabung luka dalam hatiku, memilih berhenti memperjuangkan apa yang seharusnya sekarang menjadi lebih indah walaupun tanpa mengenal status.
Kamu sibuk mencari rasa nyaman dan aku sibuk mencari sebuah kejelasan. Ternyata kamu memang sibuk berjuang dan mengabaikan sendirian. Dan aku... Aku terlalu mudah menerjemahkan sesaat sebagai cinta yang harus aku perjuangkan dengan sebuah kejelasan.
Nyatanya, sekarang akutak pernah lagi menemukan ruang indah yaitu tatapan bola matamu. Tatapanmu selalu berhasil membuatku menjadi tolol setolol tololnya. Berhenti pada titik bayang semu, bayangan dimana akan teripta sebuah bahagia yang tak terlupa tapi semua kembali kepada kepastian yang kau buat sirna. Mencarimu adalah keseharianku, merindukanmu adalah menyakitiku.

Sabtu, 14 September 2013

8 minggu = 6 jam

   Sebagai manusia tentu saja aku selalu merasa kekurangan dan tidak puas dalam hal apapun. Beberapa hari yang lalu kamu datang menghubungiku. Seperti biasa, kamu menebar banyak harapan dan membawa banyak janji tanpa ku minta padahal aku sudah bersusah payah berusaha melupakan kamu dengan sejuta kenangan termanis kita dibalik secangkir kopi yang sering kita nikmati diwaktu senja. Tak tahukah kamu? Aku hampir bosan mendengar suara sesedakan dari tangisan yang kubuat sendiri dan kamu adalah sumber penyebabnya. Aku selalu percaya pada apa apa yang keluar dari mulut manismu. Kamu pergi dan aku hanya berdiam menunggumu pulang. Bodoh kah aku?
   Dimalam itu, kamu kembali seakan tak terjadi apa-apa selama 8 minggu kebelakang. Beberapa perbincangan indah hadir diantara kita dimalam itu, telingaku kembali dihujani kata sayang, langkahku kembali mencoba menggapaimu. Cerita cerita bodohnya yang membuatku larut dalam tawa. Aku senang, bahkan begitu senang kamu kembali lagi. Sampai lupa kalau sinar bulan sirik terhadap kita yang selalu punya perbincangan asik dibalik gagang telepon.
“Sekarang kamu tidur, besok siang aku jemput ya”
Aku mengiyakan penuh rasa tenang dan percaya bahwa setelah ini tak akan ada lagi rasa kepedihan tentang kepergian. Cinta memang jalannya penuh duri tapi airmata pasti akan mengembalikan segala apa yang pernah direnggutnya. Sebelum menutup teleponnya aku berbicara penuh ketulusan
“Kamu menghangatkan hatiku yang dingin dengan sesuatu yang kamu sebut sebut sebagai cinta, jangan membuatku mengira cinta adalah sesuatu tentang airmata melulu dengan kepergianmu yang selalu tiba tiba. Selamat malam” kemudian terukir senyum indah diujung telepon.
   Keesokan harinya, pukul 13.30 ia menjemputku, sama seperti apa yang ia katakan ditelepon semalam. Mataku spontan terbelalak melihatnya turun dari mobil mengenakan polo shirt yang pernah kubelikan. Terlihat sangat tampan ia dihari itu, segera aku keluar rumah menghampirinya.
   “Kok ngga ngabarin dulu?”
   “Kamu tau aku kan?”
   “IYAAA! KAMU TUH EMANG PENUH DENGAN KEJUTAN BANGET”
   “Huww dasar, yaudah sana ganti baju aku tunggu. Cepet yaaa”
Sesudahnya, ia mengajakku kesuatu tempat yang menjadi tempat favorit kita berdua. Menghabiskan detik demi detik dengan tawa. Ingin sekali aku menghentikan waktu disaat saat seperti ini. Tawamu yang selama berminggu minggu kurindukan kini terasa nyata, menghangatkan hati yang sebelumnya dingin dan hampir beku. Beberapa kali aku jatuh dalam pelukan, sampai wangi parfumnya menempel dibajuku. Malamku yang selalu kuisi tangisan, kenangan serta ingatan kini terasa terbayar lunas. Kekhawatiranku pun kini terasa impas dengan kekuatan yang ada. Mungkin kemarin aku terlalu sibuk dalam penantian hingga berakhir pada air mata.
 Kudengar ponselnya berdering dan ia segera mengangkatnya.
    “Siapa yang telepon?”
   “Mamah minta tolong dianter kerumah tante”
   “Oh gitu? Yaudah kamu pulang buruan aku bisa naik taksi kok”
   “Ngga usah aku anter aja sayang, ada yang harus aku omongin juga”
Diperjalanan pulang.
   “Jadi, kemarin kemarin kamu kemana aja?” Aku meberanikan diri untuk bertanya karena aku tahu dalam hitungan detik atau menit kedepan ia juga akan membahas tentang ini.
   “Aku ngurus kuliah sayang”
   “Nerusin program S2nya jadi?”
   “Menurut kamu?”
   “Di Aussie?”
Ia hanya membalas dengan anggukan, tatapan matanya penuh arti seakan ada rasa takut hilangnya kepercayaan setelahnya.
   “Aku kira, sekarang kamu didepan aku itu nyata dan selamanya”
   “Aku Cuma nerusin belajar, setelah itu.....”
   “Setelah itu kamu balik?”
   “Iyaaaa aku pasti balik”
   “Balik ngasih harapan setelah itu pergi lagi semau kamu kaya akhir akhir ini?”
   “Kamu sedih ya?”
   “Kamu masih bisa nanya gitu? Kamu pikir aku bisa seneng seneng dengan segudang janji manis yang pernah kamu kasih?”
   “Aku udah memprediksikan ini sebelumnya, kamu pasti marah. Kamu pasti ngga bisa nerima”
Hening tercipta setelahnya. Aku masih berusaha menahan airmata agar tak mendarat dihadapannya.
Sayang, aku hanya ingin terlihat aku kuat didepan kamu, aku akan baik baik saja bila tanpa kamu. Bukan tak bisa menerima. Namun sakit ini semakin mendalam sayang. Memang benar, manusia boleh berencana tapi Tuhan yang menentukan dan kita..... Kita selalu punya rencana, namun rencana yang berakhir menjadi wacana. Kamu memang benar benar penuh kejutan.
Dia yang dulu sempat menjadi bagian dari hidupku, yang telah menyatu dalam nasibku kini telah pergi jauh kesana, entah kemana dan bersama siapa. Mungkin dia akan kembali lagi bukan membawa janji melainkan membawa cerita yang mungkin bisa membuatku gembira atau sedih karena sudah ada orang lain yang berhasil membuatnya menetap dihati dan tanpa pergi untuk menyakiti dengan cara mengkhianati.
8mingguku tetaplah berbuah sia. 6 Jam adalah pertemuan kita yang terakhir tanpa mengucapkan selamat tinggal.
                       Kamu adalah yang pernah ku perjuangkan dan aku adalah yang pernah kamu abaikan.

Senin, 29 Juli 2013

(bukan) Kita.

Ingatkah kamu? kita pernah ada diposisi sangat bahagia dan baik baik saja. Sulit untuk mendesripsikan rasa nyaman yang saat itu kurasakan. Sepertinya kata "kita" belum cukup pantas untuk aku dan kamu, karena aku merasa sangat bodoh pada saat itu tidak meminta status dan kejelasan darimu. Iya, aku terlalu jatuh dalam rasa nyaman.
Rinduku bergetar, degup jantungku melantunkan namamu, mimpiku juga selalu tentang kamu. Benarkah aku ini sedang merasa kehilangan? Kamu ada tapi tak ada. Seusai perbincangan tentang perbedaan diantara kita. Kamu memilih untuk pergi dengan cara menghilang perlahan. Padahal kita belum sama-sama memperjuangkan. Aku percaya, dalam kebahagiaan terselip sebuah tangisan begitupun sebaliknya.
Dipertemuan terakhir kita, kamu masih lah sama seperti kamu yang lalu. Melakukan kebiasaan membelai rambutku, menarik hidungku hingga kemerahan, membenarkan posisi dudukku, sampai membukakan bungkus permen yang hendak kumakan.
Bintang bintang menari indah dimalam itu, aku tahu matamu sangat terjaga untuk memastikan tak ada air mata yang keluar dari mataku.
     "Tak ada sesuatu hal  yang ingin kamu tanyakan?" Tanyaku dalam pelukmu.
     "Sudah terkuras kah rasa rindumu malam ini?"
     "Hingga pagi menjelang, akan kupastikan rindu ini tak akan pernah habis"
     "Akupun merasakan hal yang sama."
     "Lalu apa yang harus dipertanyakan?"
     "Apakah harus kita selalu bersama dengan satu perbedaan yang menghalangi kita?"
Mendengar tanyamu, tangisku tak terbendung. Bayanganku sebelumnya tak seperti ini, aku berharap kamu akan tetap memilih disampingku dengan segala perbedaan kita. Malam itu juga aku terakhir merasakan teduh dalam pelukan. Kamu pernah mengatakan "aku mencarimu ketika kamu menghilang tanpa kabar karena aku menganggapmu penting" setelah kejadian malam itu. Aku selalu mencoba untuk tak peduli apapun tentang kamu, berharap ada pesan singkat masuk dihandphone ku dari seorang lelaki yang mencariku karena aku tak mengabarinya. Nyatanya semua hanya harapan, pesan singkat yang kudapat hanyalah sebuah pesan singkat dari operator. Aku hampir gila, apapun yang kulihat selalu ada hubungannya dengan kamu. Atau hanya aku yang terlalu mendramatisir? Semenjak rindu ini menghampiriku, aku hanya bisa mendengarkan lagu yang biasa kita dengarkan berdua, meminum minuman yang biasa kamu minum, selau meneteskan airmata setiap menonton film yang pernah kita tonton berdua sekalipun itu film horor.. Didalam selimut aku berharap ada kamu yang selalu menatap mataku. Mataku terpejam, sebelum terlelap ada air mata kerinduan dan penuh harapan.
"Seusai aku latihan paduan suara digereja, aku akan segera menjemputmu. Jangan tinggalkan 4rakaatnya, ya!" aku mengharapkan ada sebuah suara dibalik telepon mengatakan itu seperti yang biasa aku dengar setiap hari Rabu jam 3 sore.

Pagi datang sama seperti hari kemarin, masih tanpa kamu. Tirai kamar kubuka dengan harapan, aku ataupun kamu akan mempunyai jalan keluar kedepan yang dapat kembali menyatukan. Kini kamu adalah kamu dengan agamamu dan hidupmu, aku adalah aku dengan agamaku, pilihanku dengan hidupmu.
Semoga kita selalu patuh dan taat pada agama kita masing-masing.

Minggu, 28 Juli 2013

Sedetik kedepan, aku yakin kamu akan pulang.

Apalah arti pagiku tanpa sapaan darimu didalamnya. Setiap pagi aku terbangun dengan keadaan masih begitu mencintaimu. Apakah aku masih embun disetiap pagimu? Dimataku selalu kamu pagi yang mengembun. Apakah kita cukup kuat untuk hanya maut yang mampu memisahkan? Apa kita telah berada disatu titik bernama kecukupan?
Bukan perihal titik maupun koma, namun ini nyata bahwa aku mencintaimu tak mengenal kata jeda. Aku mencintai setiap kata manis yang keluar begitu saja dari mulutmu
"Setiap hari cinta selalu terasa seperti baru, Memilikimu bukan sekedar aku ingin bahagia tetapi aku juga ingin menjaga yang Tuhan anugerahkan kepadaku. Itulah mengapa mencium keningmu lagi, lagi dan lagi menjadi sesuatu kata harus" Itu salah satu katamu yang selalu aku jadikan kebanggaan.
Dibawah terik matahari. Aku pernah bertanya
     "Sayang, apakah ini yang namanya cinta?"
Dengan sigapnya kamu melempar jawaban.
     "Jika ini namanya cinta. Kita akan merasa cukup dengan melihat salah satu diantara kita tertawa lepas"
     "Lalu? apakah kamu belum merasa ini adalah cukup?" Tanyaku.
     "Ini semua mutlak melebihi kata cukup, sayang."
Aku yakin benar bahwa didalam doa kita akan selalu merasa kuat, semesta pun kurasa akan ikut menjaga. Semenjak rumahku tak kedatanganmu lagi. Handphone ku tak menerima sms maupun telepon darimu lagi. Aku tak pernah berfikir untuk pergi terbirit-birit dan berliku-liku untuk melupakanmu. Aku berhenti pada sosokmu yang menjanjikan kebahagiaan untuk kita.
Bisakah aku memohon kepada arah yang menjadi tempatku bersujud, untukmu kembali? Bergegaslah kembali sayang, banyak hal yang harus ku ceritakan padamu. Pada senja yang selalu kita nikmati bersama, aku berlutut menunggu mu kembali pulang untuk merasakan teduhnya kecupan keningmu. Percayalah sayang, namamu akan tetap ada disetiap doaku yang ikut serta melindungimu dari mimpi buruk yang ingin bertamu dimalam hari.

Puluhan bahkan ratusan kilometer.

Usahaku melipat peta agar jarak diantara kita semakin dekat berbuah sia. Jika tangisku dapat menghasilkan uang, mungkin keberadaan kita tak akan sejauh ini, sayang.
Tuhan memang memberikan banyak pilihan, sekalipun aku bisa memilih yang terdekat. Namun aku tetap pada pendirianku untuk memilih seorang lelaki yang tentu saja memperjuangkan aku. Yaitu, kamu. Dalam ragu aku menaruh kepercayaan sebanyak jarak yang harus kamu tempuh untuk menemuiku, selalu ku menitipkan salam kepada senja untukmu, mendoakanmu dari kejauhanpun tak pernah ketinggalan.“Aku punya tubuh untuk memeluk kesepianmu” Katamu, tapi buatku itu hanyalah sebuah wacana. Peduli setan tentang jarak, pada kenyataannya kita selalu mengeluh-eluhkan kejauhan.  Memang manusia tak akan pernah merasa cukup, aku contohnya. Buatku Menatap fotomu dan mendengar suaramu melalui telepon tidaklah cukup. Rasa inginku menggebu-gebu untuk selalu bertemu. Akankah kamu baik-baik saja disana saat tak ada aku yang  selalu merapihkan kerah bajumu?Aku rindu aktivitas dan kegiatan termanis yang pernah kita lakukan berdua. Aku ingin rebahkan rindu ini pada sebuah lekung senyum kebahagiaan.Tak sabar ku untuk membuatkan mu secangkir kopi penuh cinta,  digulungkan lengan bajuku ketika aku hendak wudhu, tak pernah lupa memakaikan seatbelt disaat aku tertidur disebelahmu “Biar nggak kejedot dashboard, kalo aku ngerem hihi” Katamu terekam jelas didalam benak.Segeralah pulang sayang. Rindu ini hampir mencekik diriku.

Sabtu, 29 Juni 2013

Istilah.

Istilah: "Kalo lo sayang dan yakin sama seseorang, kejar cinta lo!"- Anonim(entah siapa yang nyiptain kata-kata ini.
Pasti pernah denger dong ya? Iyalah. Secara buat orang-orang yang cintanya tak terbalas, selalu menggunakan istilah ini. Hahaha okeeee, buat gue sendiri emang bener kok tentang itu, pokoknya Applause deh buat yang bikin kata itu. But, there sumthin' wrong.... Gini-gini, ada yang bilang kalo semua pertanyaan ga harus dijawab, begitu juga istilah. Gak semua istilah harus lo masukin dalam kamus besar dihidup lo
THE FACT PERTAMA (buat gue sendiri): "Semakin lo sayang sama orang tersebut tapi orang itu gak sayang, lo harus BANGET ngelepasin doi"
Why? karena, semakin lama lo ngejar cinta tak terbalaskan lo itu, lo semakin makin makin dan semakin terpuruk. Makin banyak pertanyaan dihati yang gabisa lo jawab sendiri. Makin penasaran dan makin gampang rapuh gitu deeeeh. Example, lo ngeliat orang yang lo sayang/suka itu 'cuma' sekedar mentionan or WTWan (anak pesbuk banget lo, Git!) lo langsung bertanya-tanya dalam hati "Ini cewek/cowok siapa yaaa? Gebetannya kali ya? Yah keduluan" HAHAHAHA KEDULUAAAAN? Hellloooooow... Disini udah jelas, yang sayang itu cuma lo, doi enggak.
THE FACT KEDUA (lagi-lagi menurut gue sendiri): "Semakin lo ngejar cinta tak terbalas lo, si doi makin keganggu sama semua tindakan lo dan lo gabakal dapet kebahagiaan apapun dari apa yang lo harapkan"
Nah! Ini nih... Iya, gue suka dongkol sendiri sama orang yang udah jelas-jelas gue kasih bad response atau gue jutekin sejutek juteknya tapi tetep kekeuh banget ngehubungin gue. Ex: "Git. Lg dirumah gak? Gue lagi didaerah rumah lo. Gue mampir ya?" | "Gausah, rumah gue udh dijual". Padahal sebelumnya, gue sama dia udah sama-sama bahas perasaan kita masing-masing. Dia sayang gue, gue sayang orang lain. Pait? emang! Itulah kenapa ada kata "Sayang gak harus banget bangetan memiliki" Dan lo tau? orang yang diganggu terus-terusan itu rela ganti nomor hape berkali-kali hanya supaya orang yang ganggu dia pergi jauh dari mimpi buruknya itu.

Kesimpulan (dari gue):
Percaya ajalah sama kata "Karma itu pasti ada" Lo boleh usaha ngejar cinta lo yang lo agung-agungkan, tapi.... mbok yo sekali aja cukup. Gausah, udah ditolak, lo tetep usaha, udah dicuekin, lo tetep negor sampe bikin males punya hp. Suatu saat lo ngerasa kalo lo bener-bener buang waktu menemukan kebahagiaan yang JELAS ada didepan mata. Kalo lo udah ditolak, dicuekin, dijutekin, dibodo amatin... Bergegaslah pergi, banyak cinta yang harus lo bener-bener perjuangin, ya tentunya.... cinta yang terbalas. :p>
Orang yang pernah lo agung-agungkan, suatu saat pasti nyesel deh pernah nyia-nyiain orang yang bener-bener addicted dan pengen ada terus disamping dia itu.

"Sebelum menerapkan istilah, lo harus nalarin dulu pake otak"- @GITAIND

Minggu, 16 Juni 2013

Perbedaan.

What should i do?
Ketika aku harus berusaha berhenti mengeluh pada suatu titik yang membuat aku selalu jatuh disetiap mengingatnya.
Ketika aku harus meneteskan airmata yang berharga, yang tak seharusnya jatuh hanya karena dia.
Ketika waktu harus tetap berjalan dan disetiap detiknya aku selalu mencoba untuk menjawab semua tanyaku.

Pada akhirnya aku bangkit, ada pundak yang harus aku jadikan tempat bersandar yang paling kuat. Aku tak pernah berharap ini menjadi pukulan terperih untuk dia yang pernah menyiakanku. Aku hanya ingin memberi suatu bukti bahwa tanpanya aku tetap bisa berdiri tegak, bisa bernafas leluasa, bergerak bebas, dan..... bisa tetaaaaap tersenyum lebih indah daripada yang biasa dia lihat.
Aku suka caramu menyelamatkanku dari dia yang sudah jelas membuatku buta akan cinta yang seharusnya indah. "Jangan tanya mengapa aku menyayangimu dengan gilanya!" katamu kepadaku. Sepertinya aku merasakan hal yang sama, dengan edan-nya aku menyayangimu. Mencintai segala sesuatu ketahi kucingan kamu. Tapi..... tidak untuk kata "Menerima segala perbedaan kita".
Jangan tanya mengapa! Seharusnya kamu mengerti apa kegelapan yang hadir diantara kita. Terlalu bahaya untukku memiliki kamu. "Bukankah setiap pertemuan akan menghasilkan rasa sayang yang akan terus bertambah?" Tanyamu yang sampai sekarang masih takut untuk ku jawab.
"Ini bukan tentang seberapa egois atau ke-kanakan kita, sayang. Juga bukan tentang derajat kaya atau miskinnya kita. Ini menyangkut hidup dan mati. Aku bersujud menghadap kiblat, shalat 5waktu setiap harinya. sedangkan kamu? Yang aku tau tentang agamamu hanyalah ibadah setiap hari Sabtu atau Minggu"
Aku tahu pernyataan ini mampu meng-obrak-abrik perasaan kita dengan mudahnya. Aku bingung, kamupun sama. Kita sama-sama tak menemukan jalan keluar namun kita sama-sama tak ingin kehilangan. Kataku
"Percayalah sayang, selalu ada jalan keluar untuk cinta yang bertahan tanpa adanya khianat." dengan sigapnya kamu menjawab "Semoga kita ada diantara pernyataan yang baru saja kamu katakan".

Kamis, 06 Juni 2013

Can't replace.

"Apa kau ingin melupakanku? Kau pernah ingin aku ingatkan. Apa kau rela aku bersedih? Kau pernah rela menangisiku. Apa kau sanggup mengacuhkanku? Kau pernah sanggup perhatikanku. Apa kau hebat melukai aku? Kau pernah sangat hebat melindungiku. Apa kau tetap pilih yang lain? Kau pernah tetap memilih aku. Apa kau bangga khianati aku? karena aku pernah bangga engkau setia" - Dear Zarry's

Semua-semua yang udah udah jadi kata "dulu" emang gak lebih menyakitkan dari jalan diatas aspal gak pake sendal disiang bolong. Bahkan saat aku menyadari semua itu gak bisa keulang, aku cuma bisa bersyukur. Setidaknya aku bukanlah orang yang tepat untuk menampung semua egomu. Bukan aku tempat bermuara mu yang terakhir. Jangan kamu merasa hina karena pernah mencintai aku. Banyak yang lebih bertahta

Rabu, 05 Juni 2013

Aku. Kamu. (Bukan) Kita.

Ketahuilah, mudah untuk aku bicara
“Aku mencintaimu seperti Juliette mencintai Romeo, seperti Pupuk menjaga pohon, seperti Bintang menemani bulan, seperti duri melengkapi mawar”

Selasa, 12 Februari 2013

Story bout' ma special birthday.

Tahun lalu gue udah posting ttg ulang tahun yang ke-16 dan skrg gue mau posting ulang tahun gue yang ke-17 lebih tepatnya sih sweeties seventeen hihi yang terdapat orang yang sama di cerita tahun lalu, bedanyaaaa disini nambah banyak pasukan dan orang yang ter-angkut (dagangan kali ah, pake diangkut segala).... Oke oke gue tau itu jayus. Udah please. Ohiya, gue ulang tahun bertepatan dengan liburan semester. Bodoah. Cekidot~

Tanggal 25....
Kebetulan pada tanggal 25 gue main seharian, dari pagi jam 8 sampe jam 3sore gue berenang sama NyaNyiNyu tercintaaa, sempet ada insiden kecelakaan TRAGIS sih, yatapi syukur motor gue gapapa... (Loh? kok motornya?) terus pulang berenang gue sama yang lain ngumpul dirumah Aji Saputra a.k.a Jipret, karena hujan deress banget jadi susah pulang juga-__- kita semua seru-seruan tuh dirumah jipret.... Ketawa, nyanyi, ngakak, sampe ada yang nangisin mantan gitu haha sebut saja Nindy sodara gue sendiri. Dan yg palin memalukan, gue kehilangan kunci motor... Kamar jipret udah diobrak-abrik sama anak-anak sampe beneran berantakan, eh gak taunya kunci motor gue ada ditas gue.