Kita sama sama bertahan diatas hubungan tanpa
kejelasan, saling diam dalam rasa nyaman dan selalu memasa bodo-kan pentingnya
sebuah status. Kadang memang aku merasa tak dianggap. Tapi, rasa bimbang lebih
menang dari segala rasa yang ada saat ini. Ingin melanjutkan terus kedepan dan
bergandengan tangan tetapi bisa saja ada yang merasakan kesakitan, entah itu
aku ataupun kamu nantinya. Namun jika memilih mundur terasa sangat sayang
sekali karena terlalu banyak cerita yang sudah dilangkahkan sangat jauh.
“Aku kayak gini karena aku ngga
mau kehilangan kamu”
Terasa tak asing telingaku
mendengarnya. Selalu ku lempar pertanyaan yang sama seperti biasanya.
“Kamu yakin ngga mau kehilangan
aku?”
Dan kamu juga selalu menjawab
dengan pertanyaan yang sama.
“Mau sampe berapa ribu kali lagi
kamu ngasih pertanyaan itu ke aku?”
“Cewek mengulang pertanyaan yang
itu itu aja karena dia nunggu sebuah jawaban yang jelas, tauk!”
“Sebuah jawaban yang jelas atau
sebuah jawaban dan kejelasan nih?”
Ah kamu ini... selalu pintar
mengondisikan apa apa yang sudah mencapai puncaknya. Pada akhirnya aku kembali
lupa soal apa yang harus kita pokok-kan yaitu sebuah kejelasan. Benarkah aku
ini terlalu menaruh hati pada hubungan kita? Tapi yang aku rasakan, kamu pun
begitu juga. Katamu, bukankah hanya aku yang selalu ada dalam setiap rasa
lelahmu dan mau mendengar cerita ceritamu? Bukankah sudah jelas bahwa kita
mempunyai perasaan yang sama? Yang tak ingin merasakan kehilangan dan
kekecewaan?
“Aku mau tau dong kamu punya doa
apa setiap shalat buat kita?” Tanyaku ditengah kesibukanmu yang sedang
membuatkanku susu hangat malam itu.
“Itu kan privasi”
“Privasi atau emang kamu ngga
pernah ngedoain kita?”
“Kamu selalu punya pertanyaan
yang intinya memaksa aku ngejawab yaaa”
Aku hanya menatap mukanya, menantang
dengan lugas.
“Aku selalu berharap kalau hati
kamu ini ngga terlalu buta buat ngeliat siapa sih yang selalu berjuang dalam
hubungan ngga jelas kita ini”
“Persoalan ngga jelas jangan kamu
jadiin perkara, toh kamu sendiri yang ngebawa hubungan ini berlarut larut danpergi
tanpa terarah”
“Pada intinya, aku ngerasa kalau
aku berjuang sendirian disini. Kamu seperti terhanyut dalam nyaman walau tanpa
kejelasan”
“Gimana aku ngga nyaman, kamu
ngebawa aku kesuatu ruang yang aku ngga ngerti tujuan dan maksudnya. Kamu ini
selalu me-nina bobo-kan aku disituasi apapun”
“Kamu sayang sama aku?”
“Kalo aku nyaman, aku udah pasti
punya perasaan sayang kekamu”
Terhenti pada suatu pembahasan
yang tak menemukan titik klimaks, kamu memilih pergi. Inilah sebuah kejelasan. Kejelasan
yang tak pernah terfikir akan terjadi didalam benakku. Kamu memilih pergi
dengan sejuta tanda tanya yang tertinggal, memilih diam tanpa arah, memilih
untuk menabung luka dalam hatiku, memilih berhenti memperjuangkan apa yang
seharusnya sekarang menjadi lebih indah walaupun tanpa mengenal status.
Kamu sibuk mencari rasa nyaman
dan aku sibuk mencari sebuah kejelasan. Ternyata kamu memang sibuk berjuang dan
mengabaikan sendirian. Dan aku... Aku terlalu mudah menerjemahkan sesaat
sebagai cinta yang harus aku perjuangkan dengan sebuah kejelasan.
Nyatanya, sekarang akutak pernah
lagi menemukan ruang indah yaitu tatapan bola matamu. Tatapanmu selalu berhasil
membuatku menjadi tolol setolol tololnya. Berhenti pada titik bayang semu,
bayangan dimana akan teripta sebuah bahagia yang tak terlupa tapi semua kembali
kepada kepastian yang kau buat sirna. Mencarimu adalah keseharianku,
merindukanmu adalah menyakitiku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar