Superman Logo Pointer

Selasa, 28 Januari 2014

Selamat Ulang Tahun.

Setahun yang lalu, kamu merengek meminta sesuatu yang sederhana kepadaku tapi aku malu untuk memberinya, padahal hanya sebuah pesan singkat beruba suara yang diisi sebagai nyanyian serta ucapan ulang tahun.
                Waktu berlalu begitu cepat, pertemuan dan perpisahan berganti-ganti seperti pakaian yang melekat pada tubuh kita. Kamu telah bertumbuh menjadi pria yang bertambah dewasa. Sungguh, aku masih tak percaya. Apakah kamu masih menjadi lelaki baik yang selalu ku tunggu kedermawanannya? Apakah kamu masih menjadi laki-laki dengan senyum manis yang selalu ku tunggu keindahannya? Apakah kamu masih orang yang memanfaatkan kesederhanaan sebagai sarana mencapai kebahagiaan? Tolong jangan ceritakan apapun tentang setahun kebelakang hidupmu tanpa aku. Aku percaya dan teguh dalam yakin bahwa kamu baik-baik saja dan selalu bahagia, karena perihal itulah yang sering kurapal dalam doa.
                Kamu yang ku kenal hanya dengan waktu yang sebentar namun telah mengenalkan ku segala rasa. Dari rasa canggung, salah tingkah, malu, bingung, bahkan berbohong pada diri sendiri. Sosokmulah salah satu yang memacu aku bercerita lewat puisi. Semua seperti mimpi, sulit diputar kembali. Kita adalah cerita didalam kaset yang rusak, yang tak tahu endingnya karena berhenti ditengah cerita. Menggantung. Tapi begitu terkesan. Sayang apa yang dulu kita impikan dan disusun rapih menjadi rencana kini tinggal wacana.
                Diumurmu yang kian bertambah, aku lupa berapa yang jelas berkepala dua. Aku hanya ingin mendoakan cita-cita dan harapanmu yang dulu sempat kau ceritakan. Kamu bilang, kamu akan menjadi sarjana ekonomi dan aku sarjana hukum bila disatukan kita akan menghukum para koruptor yang menyalah gunakan ekonomi. Tak ingatkah kamu? Begitu lucu kalau melihat kenyataan yang ada. Dulu aku sempat ingin memperjuangkan kamu, aku hanya tahu bahwa perasaanku begitu unik dan menyenangkan. Dibalik ingatan yang ada, menyedihkan memang kalau aku selalu mengingat banyak hal yang tak sepenuhnya kamu ingat. Sempat aku hampir frustasi, mengapa kejadian yang indah, seringkali tak bisa terulang?
                Ada yang perlu kamu tahu. Itu hanya sepenggal ingatanku tentang kita dulu. Bila suatu saat nanti kamu membaca tulisan ini, aku ingin memberi tahu.. Aku kini memiliki kekasih hati yang ku pilih berdasarkan kenyataan dan kejelasan. Aku menyayanginya, banyak rencana yang kususun rapih dengannya. Semoga tidak menjadi wacana seperti apa yang kita lakukan dulu. Dia lelaki yang baik, sangat menjagaku. Dia juga mempunyai senyum manis walau belum mengalahkan manisnya senyum yang kamu miliki. Tapi jangan geer! Kamu kali ini hanya menang soal senyum manis, bukan soal kasih sayang. Aku mencintainya karena ia memperjuangkanku dengan sungguh-sungguh. Bukan sekedar kata atau rencana. Apa kabar kamu disana? Sudahkah memiliki tambatan hati yang baru? Jika belum, bukan kah kamu adalah lelaki yang pandai merangkai kata? Mana ada wanita yang tidak tertarik padamu. Bukankah banyak wanita yang selalu mempersembahkan selamat paginya kepadamu? Bukankah banyak wanita yang rela watktunya terbuang hanya demi menemani kamu melakukan aktivitas mu yaitu bermain game dan tidur seharian?

                Sekali lagi. Ku ucapkan selamat ulang tahun. Jangan jadikan kepergianmu sebagai alasan mengapa kamu tidak tersenyum lagi. Selamat bertambah dewasa!

                                                                                                    Aku yang pernah menjadi
                                                                                                        Sebagian wacana mu.

Senin, 27 Januari 2014

Sabar atau bodoh?

Setelah pertengkaran di siang bolong itu dan kata-kata kramat terucap dari bibir indahmu, aku memilih pergi. Pergi dengan sejuta kepura-puraan dalam hati dan bergegas untuk tak akan peduli lagi. Kamu, kamu adalah perantara dari Tuhan. Sebab selama ini aku selalu salah mengartikan sebuah kata sabar dan bodoh. Dan kamu. Kamu memberiku sebuah arti bagaimana bodohnya aku dijatuhkan hatinya oleh pria yang tak pernah mengganggapku ada.
Berminggu-minggu hidup tanpamu, sempat aku ingin menghempaskan kepalaku ini ketebing lalu berdarah-darah, hilang ingatan atau bahkan mati. Mengingatmu dan sadar bahwa kamu tak lagi disampingku adalah hal yang paling menyakitkan daripada berjalan dengan kaki telanjang diatas pecahan piring atau gelas. Wahai kamu yang pernah aku agung-agungkan selayaknya Tuhan, jika ada cahaya sebagai tanda bahwa itu jalan keluar dengan perubahan yang kamu alami nanti nya, aku siap kalau kalau nanti Tuhan memberiku takdir untuk kembali bersamamu.
Ketika ada kalanya aku benar benar bangkit dari keterpurukan saat kulihat dirimu sanggup dan cukup kuat maka aku harus lebih dari apa yang kamu rasakan. Membuka hati memang bukan perkara yang mudah apalagi sebelumnya pernah disinggahi dan membuat susah melepaskan lagi. Dengan keadaan masih sama seperti kemarin, terbangun dari tidur ditempat tidur yang sama, menatap langit kamar yang sama, bernafas dan punya detak jantung yang sama seperti sebelumnya. Tapi kali ini ada sedikit yang berbeda, sedikit senyuman disetiap mata menatap handphone, membaca huruf yang dirangkai menjadi kata dan kata dirangkai sempurna menjadi kalimat indah. Sesekali aku menarik selimut dan membiarkan wajahku tenggelam didalamnya. Seperti ada sosok yang (mungkin) lebih baik dari kamu. Dengan orang baru aku memiliki harapan baru dan tujuan yang baru serta mimpi yang juga baru. Tapi ternyata, tidak semua yang baru akan menjamin kebahagiaan. Iya, masalalu juga tidak selalu menghasilkan air mata. Tapi ada yang harus aku akui, aku rindu apa yang ada dimasa lalu ku bersama kamu. Akhirnya kembali aku mengalami perpisahan, rasanya beda dengan ketika aku melepaskan kepergianmu.  Dengan kejadian ini, mungkin tak lama lagi aku akan menerima apa yang orang orang sebut sebut sebagai karma.
Do’a ku sama seperti sebelumya “Tuhan, aku tahu Engkau telah merencanakan pertemuan kami, meski masih buram tentang maksud-Nya, sebagai manusia kami hanya bermaksud mencintai dan tak pernah merencanakan perpisahan. Tapi aku tahu, rencana-Mu mungkin sudah tersusun dengan rapih dan disiapkan untukku kelak, seperti apa bentuknya hanya Engkau yang maha mengetahui”.
Ketika suatu hari terjadi diskusi dan interupsi, seperti masalah yang beralalu adalah masalah kecil yang bisa diatasi hanya dengan cara disentil oleh satu hentakan kecil. Cinta yang dulu aku bela, kini hadir kembali diantara kita. Datang dengan begitu manis dan sedikit lirih, dingin namum mempesona. Kita kembali melewati hampir semua hal bersama-sama. Kamu belum berubah, sedikit berubah kearah yang lebih baik. Aku begitu nyaman oleh apa yang kau berikan walau bentuknya tak terlihat dan tak berwujud; mencintai dengan segala hormat. Kini, kita memiliki lankah yang sama, denyut nadi yang tak berbeda, begitu seirama. Tanpa cela, tanpa cacat. Hampir sempurna. Apakah selama hampir setahun perpisahan kita, Tuhan memiliki proses hadirnya kamu kembali? Semoga saja terus seperti ini. Kamu yang mengatakan bahagia bila ada aku, memunculkan sebuah pertanyaan kecil yang jawabannya amat besar. Jika bahagia adalah pernyataan, lalu mengapa sebelumnya kamu memilih perpisahan sebagai jalan? Bukankah kamu tahu bahwa jalan yang pernah kamu pilih akan mengubah mimpi menjadi api? Pelangi menjadi bui? Dan Senja menjadi luka? Semoga saja perubahanmu sekarang sampai nanti dan selamanya akan menjadikan itu sebuah jawaban atas pertanyaanku.
            Sadarilah, setahun tanpamu.. Dijendela yang masih basah, di sesaat setelah rintikan-rintikan awan reda. Kutuliskan namamu dengan menyeretkan satu jariku perlahan-lahan. Entahlah, sepeninggalanmu aku jadi gemar melakukan hal-hal unik yang bisa aku tulis secara terus-menerus. aku tak menyadari ada berapa frasa kata, butir air mata dan beberapa genggam permohonan didalam do’a. Mungkin sebelumnya adalah salahku tak mengunji langkah kepergianmu. Namun kali ini, kupastikan kebahagiaan akan menguci kita dalam sebuah kenyamanan. Cinta lama tak selalu membuahkan air mata dan Cinta baru tak selalu membuahkan kebahagiaan. Terkadang kita harus memastikan, apakah bahagia akan tercipta bila hati tak ingin pergi? Apakah bahagia akan tercipta bila hati masih ingin memperjuangkan?

Senin, 30 Desember 2013

Yang paling mahal

Aku kehilangan apa yang aku butuhkan disaat aku sedih. Aku memang mempunyai sebuah guling, tetapi guling empuk ku itu tidak punya tangan serela kamu juga tak bisa menggantikan senyummu. Akupun sempat salah menilai, banyak mainan didunia ini tapi hatimu bukanlah salah satunya. Hampa. Entah dimana akan aku temukan apa yang aku rindukan. Aku kehilangan.
Ku temukan sesuatu yang baru, ia adalah elok yang paling penuh akan ketulusan . Banyak senyum bahagia terurai namun tak seindah senyumku saat bersamamu. Sampai hampir mual aku dibuatnya, perhatian perhatian kecil yang ia berikan begitu menenangkan namun tak sanggup menggantikan. Dengan sedikit kepura-puraan, aku bisa membuatnya tersenyum. Dengan sandiwara, aku bisa membuatnya percaya. Namun cinta butuh isyarat adanya dan ia memiliki hukum sendiri seperti apa yang dikatakan orang yaitu karma. Dengannya, aku mengerti apa arti makmur. Mengapa? Karena apa yang aku inginkan, ia selalu sangggup berikan. Entah, mungkin ia melihatku sebagai bidadari AXE sehingga ia selalu melihatku sempurna dimatanya. Namun aku rindu kesederhanaan. Aku rindu dikala aku butuh atau ingin pergi kesuatu tempat dengan kekasihku, aku atau bahkan kita mengabulkannya dengan usaha bukan rengekan. Ia bisa menuruti apa yang aku minta kecuali waktu. Barang bisa dibeli dengan uangnya, sekalipun itu iPhone generasi ke 8 atau bahkan 10. Tetapi tidak dengan kesibukannya, buatku lebih penting mencari kutu dibulu kucing daripada mengerjakan kesibukan-kesibukannya.

...


Aku mencintaimu, entah darimana aku mendapat kekuatan itu. Aku tau ini hal yang tidak mudah untuk membuatmu yakin, terlebih mereka. Kau boleh melihatnya (dibaca: kesalahan-kesalahan yang sudah berlalu). Sekarang siapa sangka kau kembali datang ke hati ini? Kau boleh melihatku sebagai orang yang gila harta semenjak menjalin hubungan dengan sesosok pria itu. Kuakui kemapanannya, tapi kau... kau adalah yang handal dalam urusan tatap menatap, kau juga yang piawai mengusir lara, dan menerjangku dengan sejuta perbendaharaan kata. Kini, aku ingin senyummu disetiap waktu yang kumiliki. Aku ingin suaramu disetiap sunyi yang ku hadapi. Aku ingin matamu ditiap hebat apa yang kulakukan. Aku ingin tawamu disetiap esok yang kupunya.
Sayang, aku lupa letaknya hati. Yang kuingat ada didengkul, rela kupakai untuk berlutut minta senyummu. Aku rela bila itu jatuh ditengah jalan lalu terinjak roda hidupmu. Kau memang tak selalu mengabulkan apa yang ku minta tapi setidaknya kamu adalah apa yang selalu ada, pula sedih menerpa... pundak dan pelukmu akan segera tiba. Aku sadar, waktu lebih mahal dari boneka, baju, cokelat, ice cream, Xbox maupun iPhone.

Minggu, 29 Desember 2013

Waktu.

Aku adalah seseorang yang tidak baik, lalu Tuhan mendatangkan orang lain yang lebih baik untuk membantu kekasihku menyakitiku secara baik-baik. Aku senang membuatmu tersenyum, tapi kamu lebih senang tersenyum tanpa aku. Itulah cara yang pernah kamu jelajahi sendiri untuk pergi dan yakin akan bahagia jika tanpa aku.
Lupa atau bahkan tidak ingat sama sekali? aku adalah apa yang pernah kamu perjuangkan secara mati-matian. Jujur saja, semenjak kamu pergi cinta jadi aneh bentuknya. Tergambar kecil dari mata yang bengkak. Sempat, kamu sempat sanggup mencintaiku tapi takut mengakuinya. Juga, seringkali saat kau marah lalu lupa perasaanku. Kau keraskan hatimu, aku remuk didalamnya.
Seiring berjalannya waktu aku rasa kamu sangat sanggup dan sangat handal mengenali duniamu sendiri tanpa adanya aku disampingmu. Akupun memilih untuk belajar perlahan melepas kamu, melupakan kamu, memasa bodo kan apapun tentang kamu. Meski sangat sulit, aku tetap berusaha karena melihatmu begitu mudah melalui itu semua.
Kita melalui hari secara berjauhan, terasa sama walau dengan orang yang berbeda. Aku tak tahu menahu kabarmu, begitupun sebaliknya. Kadang aku ingin kamu menjadi kita lagi, tapi semua sirna setelah aku melihat kebelakang. Apa harus sesederhana kah itu untuk aku bangkit dari semua ini? Yaitu, bilang saja kamu tidak mencintaiku dan anggap aku tak pernah ada! aku pernah mengatakan padamu, entah kamu lupa atau menolak lupa "Aku tidak hanya mencintaimu dengan sangat, tapi aku juga mampu menyayangi mereka. Keluargamu" namun kini, entah bagaimana aku mendeskripsikannya, yang jelas jarak diantara kita mengahncurkan semua kenangan kenangan manis sehingga menimbulkan celah yang jelas bisa dimasuki dnegan kenangan manis yang baru.
Setengah tahun berlalu, aku masih merasa mampu tanpa kamu. Sangat mampu namun belum terbiasa. Ketika saatnya aku menyadari kamu telah menjalin hubungan dengan orang lain. Entah sudah sampai tahap berapa, aku tidak ingin mengetahuinya. Sungguh, aku muak. Aku memilih beranjak pergi. Aku merasa sudah melupakanmu, namun mengapa begitu pedih ketika aku tau kamu sudah benar benar berani untuk menjalin hubungan dengan orang lain yang bukan aku. Aku tidak tahu apa yang sedang kau rencanakan demi kita berdua, itu disaat kau melewati malam dengan dirinya. Dulu, kamu yang membangunkanku tidur, sekarang mimpi buruk yang melakukannya. Aku memafkan tapi tak sanggup meupakan. Inikah yang disebut luka?

...

"Kita mulai dari awal lagi ya"
Hari demi hari kita lalui bersama kembali, bukan dengan janji namun kebaikan dan kekuatan yang dilalui. Setahun berpisah mungkin sedikit bisa melupakan kesalahan-kesalahannya yang sudah lampau. Luka dihubungan kita dulu, kini berangsur pulih diisi oleh apa yang disebut cinta. Ku bawa kau kedalam doa agar apa yang pernah terjadi sebelumnya akan tergantikan dengan sesuatu yang bahagia. Sekarang, semua terasa seperti kemanapun akan ku cari, sampai kapanpun akan ku nanti, rindu tidak mengukur jumlah, karena kita benci angka seperti kita tidak tahu jumlah rambut kita sendiri, jangan tanya mengapa kita kembali dan bisa seperti ini, sebab cinta akan selalu menjadi jawabannya.
atau seperti Aku cinta masalaluku, walau ia pernah berlalu mencintaiku, aku masih selalu mencintainya.
Percayalah sayang! Walau pernah aku hinggap dipohon seberang, sayapku tetap mengepak ingin selalu bergegas pulang ditengah biru yang kian perlahan hilang dan kau sempat bahagia walau kita tidak dipohon yang sama, pula bersama sayap sayap yang lain. Jadi, tolong! jangan kau haramkan tenagaku yang telah terbang membanting tulang. Hanya demi dirimu yang selalu aku sayang diantara segala sarang.
Setahun perpisahan kita membuat aku mengenal siapa kamu sesungguhnya. Maka, bila suatu hari kau amnesia dan lupa pada dirimu sendiri. Kau boleh tanya padaku, aku ingat banyak yang baik tentang dirimu.
Dulu maupun sekarang, aku adalah kamu dan kamu adalah kita. Ada sesuatu yang mengembalikan kebahagiaan kita; waktu.

Jumat, 27 September 2013

Keseharianku adalah mencarimu, merindukanmu adalah hal yang menyakitiku.

Kita  sama sama bertahan diatas hubungan tanpa kejelasan, saling diam dalam rasa nyaman dan selalu memasa bodo-kan pentingnya sebuah status. Kadang memang aku merasa tak dianggap. Tapi, rasa bimbang lebih menang dari segala rasa yang ada saat ini. Ingin melanjutkan terus kedepan dan bergandengan tangan tetapi bisa saja ada yang merasakan kesakitan, entah itu aku ataupun kamu nantinya. Namun jika memilih mundur terasa sangat sayang sekali karena terlalu banyak cerita yang sudah dilangkahkan sangat jauh.
“Aku kayak gini karena aku ngga mau kehilangan kamu”
Terasa tak asing telingaku mendengarnya. Selalu ku lempar pertanyaan yang sama seperti biasanya.
“Kamu yakin ngga mau kehilangan aku?”
Dan kamu juga selalu menjawab dengan pertanyaan yang sama.
“Mau sampe berapa ribu kali lagi kamu ngasih pertanyaan itu ke aku?”
“Cewek mengulang pertanyaan yang itu itu aja karena dia nunggu sebuah jawaban yang jelas, tauk!”
“Sebuah jawaban yang jelas atau sebuah jawaban dan kejelasan nih?”
Ah kamu ini... selalu pintar mengondisikan apa apa yang sudah mencapai puncaknya. Pada akhirnya aku kembali lupa soal apa yang harus kita pokok-kan yaitu sebuah kejelasan. Benarkah aku ini terlalu menaruh hati pada hubungan kita? Tapi yang aku rasakan, kamu pun begitu juga. Katamu, bukankah hanya aku yang selalu ada dalam setiap rasa lelahmu dan mau mendengar cerita ceritamu? Bukankah sudah jelas bahwa kita mempunyai perasaan yang sama? Yang tak ingin merasakan kehilangan dan kekecewaan?
“Aku mau tau dong kamu punya doa apa setiap shalat buat kita?” Tanyaku ditengah kesibukanmu yang sedang membuatkanku susu hangat malam itu.
“Itu kan privasi”
“Privasi atau emang kamu ngga pernah ngedoain kita?”
“Kamu selalu punya pertanyaan yang intinya memaksa aku ngejawab yaaa”
Aku hanya menatap mukanya, menantang dengan lugas.
“Aku selalu berharap kalau hati kamu ini ngga terlalu buta buat ngeliat siapa sih yang selalu berjuang dalam hubungan ngga jelas kita ini”
“Persoalan ngga jelas jangan kamu jadiin perkara, toh kamu sendiri yang ngebawa hubungan ini berlarut larut danpergi tanpa terarah”
“Pada intinya, aku ngerasa kalau aku berjuang sendirian disini. Kamu seperti terhanyut dalam nyaman walau tanpa kejelasan”
“Gimana aku ngga nyaman, kamu ngebawa aku kesuatu ruang yang aku ngga ngerti tujuan dan maksudnya. Kamu ini selalu me-nina bobo-kan aku disituasi apapun”
“Kamu sayang sama aku?”
“Kalo aku nyaman, aku udah pasti punya perasaan sayang kekamu”
Terhenti pada suatu pembahasan yang tak menemukan titik klimaks, kamu memilih pergi. Inilah sebuah kejelasan. Kejelasan yang tak pernah terfikir akan terjadi didalam benakku. Kamu memilih pergi dengan sejuta tanda tanya yang tertinggal, memilih diam tanpa arah, memilih untuk menabung luka dalam hatiku, memilih berhenti memperjuangkan apa yang seharusnya sekarang menjadi lebih indah walaupun tanpa mengenal status.
Kamu sibuk mencari rasa nyaman dan aku sibuk mencari sebuah kejelasan. Ternyata kamu memang sibuk berjuang dan mengabaikan sendirian. Dan aku... Aku terlalu mudah menerjemahkan sesaat sebagai cinta yang harus aku perjuangkan dengan sebuah kejelasan.
Nyatanya, sekarang akutak pernah lagi menemukan ruang indah yaitu tatapan bola matamu. Tatapanmu selalu berhasil membuatku menjadi tolol setolol tololnya. Berhenti pada titik bayang semu, bayangan dimana akan teripta sebuah bahagia yang tak terlupa tapi semua kembali kepada kepastian yang kau buat sirna. Mencarimu adalah keseharianku, merindukanmu adalah menyakitiku.

Sabtu, 14 September 2013

8 minggu = 6 jam

   Sebagai manusia tentu saja aku selalu merasa kekurangan dan tidak puas dalam hal apapun. Beberapa hari yang lalu kamu datang menghubungiku. Seperti biasa, kamu menebar banyak harapan dan membawa banyak janji tanpa ku minta padahal aku sudah bersusah payah berusaha melupakan kamu dengan sejuta kenangan termanis kita dibalik secangkir kopi yang sering kita nikmati diwaktu senja. Tak tahukah kamu? Aku hampir bosan mendengar suara sesedakan dari tangisan yang kubuat sendiri dan kamu adalah sumber penyebabnya. Aku selalu percaya pada apa apa yang keluar dari mulut manismu. Kamu pergi dan aku hanya berdiam menunggumu pulang. Bodoh kah aku?
   Dimalam itu, kamu kembali seakan tak terjadi apa-apa selama 8 minggu kebelakang. Beberapa perbincangan indah hadir diantara kita dimalam itu, telingaku kembali dihujani kata sayang, langkahku kembali mencoba menggapaimu. Cerita cerita bodohnya yang membuatku larut dalam tawa. Aku senang, bahkan begitu senang kamu kembali lagi. Sampai lupa kalau sinar bulan sirik terhadap kita yang selalu punya perbincangan asik dibalik gagang telepon.
“Sekarang kamu tidur, besok siang aku jemput ya”
Aku mengiyakan penuh rasa tenang dan percaya bahwa setelah ini tak akan ada lagi rasa kepedihan tentang kepergian. Cinta memang jalannya penuh duri tapi airmata pasti akan mengembalikan segala apa yang pernah direnggutnya. Sebelum menutup teleponnya aku berbicara penuh ketulusan
“Kamu menghangatkan hatiku yang dingin dengan sesuatu yang kamu sebut sebut sebagai cinta, jangan membuatku mengira cinta adalah sesuatu tentang airmata melulu dengan kepergianmu yang selalu tiba tiba. Selamat malam” kemudian terukir senyum indah diujung telepon.
   Keesokan harinya, pukul 13.30 ia menjemputku, sama seperti apa yang ia katakan ditelepon semalam. Mataku spontan terbelalak melihatnya turun dari mobil mengenakan polo shirt yang pernah kubelikan. Terlihat sangat tampan ia dihari itu, segera aku keluar rumah menghampirinya.
   “Kok ngga ngabarin dulu?”
   “Kamu tau aku kan?”
   “IYAAA! KAMU TUH EMANG PENUH DENGAN KEJUTAN BANGET”
   “Huww dasar, yaudah sana ganti baju aku tunggu. Cepet yaaa”
Sesudahnya, ia mengajakku kesuatu tempat yang menjadi tempat favorit kita berdua. Menghabiskan detik demi detik dengan tawa. Ingin sekali aku menghentikan waktu disaat saat seperti ini. Tawamu yang selama berminggu minggu kurindukan kini terasa nyata, menghangatkan hati yang sebelumnya dingin dan hampir beku. Beberapa kali aku jatuh dalam pelukan, sampai wangi parfumnya menempel dibajuku. Malamku yang selalu kuisi tangisan, kenangan serta ingatan kini terasa terbayar lunas. Kekhawatiranku pun kini terasa impas dengan kekuatan yang ada. Mungkin kemarin aku terlalu sibuk dalam penantian hingga berakhir pada air mata.
 Kudengar ponselnya berdering dan ia segera mengangkatnya.
    “Siapa yang telepon?”
   “Mamah minta tolong dianter kerumah tante”
   “Oh gitu? Yaudah kamu pulang buruan aku bisa naik taksi kok”
   “Ngga usah aku anter aja sayang, ada yang harus aku omongin juga”
Diperjalanan pulang.
   “Jadi, kemarin kemarin kamu kemana aja?” Aku meberanikan diri untuk bertanya karena aku tahu dalam hitungan detik atau menit kedepan ia juga akan membahas tentang ini.
   “Aku ngurus kuliah sayang”
   “Nerusin program S2nya jadi?”
   “Menurut kamu?”
   “Di Aussie?”
Ia hanya membalas dengan anggukan, tatapan matanya penuh arti seakan ada rasa takut hilangnya kepercayaan setelahnya.
   “Aku kira, sekarang kamu didepan aku itu nyata dan selamanya”
   “Aku Cuma nerusin belajar, setelah itu.....”
   “Setelah itu kamu balik?”
   “Iyaaaa aku pasti balik”
   “Balik ngasih harapan setelah itu pergi lagi semau kamu kaya akhir akhir ini?”
   “Kamu sedih ya?”
   “Kamu masih bisa nanya gitu? Kamu pikir aku bisa seneng seneng dengan segudang janji manis yang pernah kamu kasih?”
   “Aku udah memprediksikan ini sebelumnya, kamu pasti marah. Kamu pasti ngga bisa nerima”
Hening tercipta setelahnya. Aku masih berusaha menahan airmata agar tak mendarat dihadapannya.
Sayang, aku hanya ingin terlihat aku kuat didepan kamu, aku akan baik baik saja bila tanpa kamu. Bukan tak bisa menerima. Namun sakit ini semakin mendalam sayang. Memang benar, manusia boleh berencana tapi Tuhan yang menentukan dan kita..... Kita selalu punya rencana, namun rencana yang berakhir menjadi wacana. Kamu memang benar benar penuh kejutan.
Dia yang dulu sempat menjadi bagian dari hidupku, yang telah menyatu dalam nasibku kini telah pergi jauh kesana, entah kemana dan bersama siapa. Mungkin dia akan kembali lagi bukan membawa janji melainkan membawa cerita yang mungkin bisa membuatku gembira atau sedih karena sudah ada orang lain yang berhasil membuatnya menetap dihati dan tanpa pergi untuk menyakiti dengan cara mengkhianati.
8mingguku tetaplah berbuah sia. 6 Jam adalah pertemuan kita yang terakhir tanpa mengucapkan selamat tinggal.
                       Kamu adalah yang pernah ku perjuangkan dan aku adalah yang pernah kamu abaikan.

Senin, 29 Juli 2013

(bukan) Kita.

Ingatkah kamu? kita pernah ada diposisi sangat bahagia dan baik baik saja. Sulit untuk mendesripsikan rasa nyaman yang saat itu kurasakan. Sepertinya kata "kita" belum cukup pantas untuk aku dan kamu, karena aku merasa sangat bodoh pada saat itu tidak meminta status dan kejelasan darimu. Iya, aku terlalu jatuh dalam rasa nyaman.
Rinduku bergetar, degup jantungku melantunkan namamu, mimpiku juga selalu tentang kamu. Benarkah aku ini sedang merasa kehilangan? Kamu ada tapi tak ada. Seusai perbincangan tentang perbedaan diantara kita. Kamu memilih untuk pergi dengan cara menghilang perlahan. Padahal kita belum sama-sama memperjuangkan. Aku percaya, dalam kebahagiaan terselip sebuah tangisan begitupun sebaliknya.
Dipertemuan terakhir kita, kamu masih lah sama seperti kamu yang lalu. Melakukan kebiasaan membelai rambutku, menarik hidungku hingga kemerahan, membenarkan posisi dudukku, sampai membukakan bungkus permen yang hendak kumakan.
Bintang bintang menari indah dimalam itu, aku tahu matamu sangat terjaga untuk memastikan tak ada air mata yang keluar dari mataku.
     "Tak ada sesuatu hal  yang ingin kamu tanyakan?" Tanyaku dalam pelukmu.
     "Sudah terkuras kah rasa rindumu malam ini?"
     "Hingga pagi menjelang, akan kupastikan rindu ini tak akan pernah habis"
     "Akupun merasakan hal yang sama."
     "Lalu apa yang harus dipertanyakan?"
     "Apakah harus kita selalu bersama dengan satu perbedaan yang menghalangi kita?"
Mendengar tanyamu, tangisku tak terbendung. Bayanganku sebelumnya tak seperti ini, aku berharap kamu akan tetap memilih disampingku dengan segala perbedaan kita. Malam itu juga aku terakhir merasakan teduh dalam pelukan. Kamu pernah mengatakan "aku mencarimu ketika kamu menghilang tanpa kabar karena aku menganggapmu penting" setelah kejadian malam itu. Aku selalu mencoba untuk tak peduli apapun tentang kamu, berharap ada pesan singkat masuk dihandphone ku dari seorang lelaki yang mencariku karena aku tak mengabarinya. Nyatanya semua hanya harapan, pesan singkat yang kudapat hanyalah sebuah pesan singkat dari operator. Aku hampir gila, apapun yang kulihat selalu ada hubungannya dengan kamu. Atau hanya aku yang terlalu mendramatisir? Semenjak rindu ini menghampiriku, aku hanya bisa mendengarkan lagu yang biasa kita dengarkan berdua, meminum minuman yang biasa kamu minum, selau meneteskan airmata setiap menonton film yang pernah kita tonton berdua sekalipun itu film horor.. Didalam selimut aku berharap ada kamu yang selalu menatap mataku. Mataku terpejam, sebelum terlelap ada air mata kerinduan dan penuh harapan.
"Seusai aku latihan paduan suara digereja, aku akan segera menjemputmu. Jangan tinggalkan 4rakaatnya, ya!" aku mengharapkan ada sebuah suara dibalik telepon mengatakan itu seperti yang biasa aku dengar setiap hari Rabu jam 3 sore.

Pagi datang sama seperti hari kemarin, masih tanpa kamu. Tirai kamar kubuka dengan harapan, aku ataupun kamu akan mempunyai jalan keluar kedepan yang dapat kembali menyatukan. Kini kamu adalah kamu dengan agamamu dan hidupmu, aku adalah aku dengan agamaku, pilihanku dengan hidupmu.
Semoga kita selalu patuh dan taat pada agama kita masing-masing.