Setelah
pertengkaran di siang bolong itu dan kata-kata kramat terucap dari bibir
indahmu, aku memilih pergi. Pergi dengan sejuta kepura-puraan dalam hati dan
bergegas untuk tak akan peduli lagi. Kamu, kamu adalah perantara dari Tuhan.
Sebab selama ini aku selalu salah mengartikan sebuah kata sabar dan bodoh. Dan
kamu. Kamu memberiku sebuah arti bagaimana bodohnya aku dijatuhkan hatinya oleh
pria yang tak pernah mengganggapku ada.
Berminggu-minggu
hidup tanpamu, sempat aku ingin menghempaskan kepalaku ini ketebing lalu
berdarah-darah, hilang ingatan atau bahkan mati. Mengingatmu dan sadar bahwa
kamu tak lagi disampingku adalah hal yang paling menyakitkan daripada berjalan
dengan kaki telanjang diatas pecahan piring atau gelas. Wahai kamu yang pernah
aku agung-agungkan selayaknya Tuhan, jika ada cahaya sebagai tanda bahwa itu
jalan keluar dengan perubahan yang kamu alami nanti nya, aku siap kalau kalau
nanti Tuhan memberiku takdir untuk kembali bersamamu.
Ketika ada kalanya aku benar benar bangkit dari keterpurukan saat kulihat dirimu sanggup dan cukup kuat maka aku harus lebih dari apa yang kamu rasakan. Membuka hati memang bukan perkara yang mudah apalagi sebelumnya pernah disinggahi dan membuat susah melepaskan lagi. Dengan keadaan masih sama seperti kemarin, terbangun dari tidur ditempat tidur yang sama, menatap langit kamar yang sama, bernafas dan punya detak jantung yang sama seperti sebelumnya. Tapi kali ini ada sedikit yang berbeda, sedikit senyuman disetiap mata menatap handphone, membaca huruf yang dirangkai menjadi kata dan kata dirangkai sempurna menjadi kalimat indah. Sesekali aku menarik selimut dan membiarkan wajahku tenggelam didalamnya. Seperti ada sosok yang (mungkin) lebih baik dari kamu. Dengan orang baru aku memiliki harapan baru dan tujuan yang baru serta mimpi yang juga baru. Tapi ternyata, tidak semua yang baru akan menjamin kebahagiaan. Iya, masalalu juga tidak selalu menghasilkan air mata. Tapi ada yang harus aku akui, aku rindu apa yang ada dimasa lalu ku bersama kamu. Akhirnya kembali aku mengalami perpisahan, rasanya beda dengan ketika aku melepaskan kepergianmu. Dengan kejadian ini, mungkin tak lama lagi aku akan menerima apa yang orang orang sebut sebut sebagai karma.
Do’a ku sama seperti sebelumya “Tuhan, aku tahu Engkau telah merencanakan pertemuan kami, meski masih buram tentang maksud-Nya, sebagai manusia kami hanya bermaksud mencintai dan tak pernah merencanakan perpisahan. Tapi aku tahu, rencana-Mu mungkin sudah tersusun dengan rapih dan disiapkan untukku kelak, seperti apa bentuknya hanya Engkau yang maha mengetahui”.
Ketika suatu hari terjadi diskusi dan interupsi, seperti masalah yang beralalu adalah masalah kecil yang bisa diatasi hanya dengan cara disentil oleh satu hentakan kecil. Cinta yang dulu aku bela, kini hadir kembali diantara kita. Datang dengan begitu manis dan sedikit lirih, dingin namum mempesona. Kita kembali melewati hampir semua hal bersama-sama. Kamu belum berubah, sedikit berubah kearah yang lebih baik. Aku begitu nyaman oleh apa yang kau berikan walau bentuknya tak terlihat dan tak berwujud; mencintai dengan segala hormat. Kini, kita memiliki lankah yang sama, denyut nadi yang tak berbeda, begitu seirama. Tanpa cela, tanpa cacat. Hampir sempurna. Apakah selama hampir setahun perpisahan kita, Tuhan memiliki proses hadirnya kamu kembali? Semoga saja terus seperti ini. Kamu yang mengatakan bahagia bila ada aku, memunculkan sebuah pertanyaan kecil yang jawabannya amat besar. Jika bahagia adalah pernyataan, lalu mengapa sebelumnya kamu memilih perpisahan sebagai jalan? Bukankah kamu tahu bahwa jalan yang pernah kamu pilih akan mengubah mimpi menjadi api? Pelangi menjadi bui? Dan Senja menjadi luka? Semoga saja perubahanmu sekarang sampai nanti dan selamanya akan menjadikan itu sebuah jawaban atas pertanyaanku.
Ketika ada kalanya aku benar benar bangkit dari keterpurukan saat kulihat dirimu sanggup dan cukup kuat maka aku harus lebih dari apa yang kamu rasakan. Membuka hati memang bukan perkara yang mudah apalagi sebelumnya pernah disinggahi dan membuat susah melepaskan lagi. Dengan keadaan masih sama seperti kemarin, terbangun dari tidur ditempat tidur yang sama, menatap langit kamar yang sama, bernafas dan punya detak jantung yang sama seperti sebelumnya. Tapi kali ini ada sedikit yang berbeda, sedikit senyuman disetiap mata menatap handphone, membaca huruf yang dirangkai menjadi kata dan kata dirangkai sempurna menjadi kalimat indah. Sesekali aku menarik selimut dan membiarkan wajahku tenggelam didalamnya. Seperti ada sosok yang (mungkin) lebih baik dari kamu. Dengan orang baru aku memiliki harapan baru dan tujuan yang baru serta mimpi yang juga baru. Tapi ternyata, tidak semua yang baru akan menjamin kebahagiaan. Iya, masalalu juga tidak selalu menghasilkan air mata. Tapi ada yang harus aku akui, aku rindu apa yang ada dimasa lalu ku bersama kamu. Akhirnya kembali aku mengalami perpisahan, rasanya beda dengan ketika aku melepaskan kepergianmu. Dengan kejadian ini, mungkin tak lama lagi aku akan menerima apa yang orang orang sebut sebut sebagai karma.
Do’a ku sama seperti sebelumya “Tuhan, aku tahu Engkau telah merencanakan pertemuan kami, meski masih buram tentang maksud-Nya, sebagai manusia kami hanya bermaksud mencintai dan tak pernah merencanakan perpisahan. Tapi aku tahu, rencana-Mu mungkin sudah tersusun dengan rapih dan disiapkan untukku kelak, seperti apa bentuknya hanya Engkau yang maha mengetahui”.
Ketika suatu hari terjadi diskusi dan interupsi, seperti masalah yang beralalu adalah masalah kecil yang bisa diatasi hanya dengan cara disentil oleh satu hentakan kecil. Cinta yang dulu aku bela, kini hadir kembali diantara kita. Datang dengan begitu manis dan sedikit lirih, dingin namum mempesona. Kita kembali melewati hampir semua hal bersama-sama. Kamu belum berubah, sedikit berubah kearah yang lebih baik. Aku begitu nyaman oleh apa yang kau berikan walau bentuknya tak terlihat dan tak berwujud; mencintai dengan segala hormat. Kini, kita memiliki lankah yang sama, denyut nadi yang tak berbeda, begitu seirama. Tanpa cela, tanpa cacat. Hampir sempurna. Apakah selama hampir setahun perpisahan kita, Tuhan memiliki proses hadirnya kamu kembali? Semoga saja terus seperti ini. Kamu yang mengatakan bahagia bila ada aku, memunculkan sebuah pertanyaan kecil yang jawabannya amat besar. Jika bahagia adalah pernyataan, lalu mengapa sebelumnya kamu memilih perpisahan sebagai jalan? Bukankah kamu tahu bahwa jalan yang pernah kamu pilih akan mengubah mimpi menjadi api? Pelangi menjadi bui? Dan Senja menjadi luka? Semoga saja perubahanmu sekarang sampai nanti dan selamanya akan menjadikan itu sebuah jawaban atas pertanyaanku.
Sadarilah, setahun tanpamu.. Dijendela yang masih basah, di sesaat setelah rintikan-rintikan awan reda. Kutuliskan namamu dengan menyeretkan satu jariku perlahan-lahan. Entahlah, sepeninggalanmu aku jadi gemar melakukan hal-hal unik yang bisa aku tulis secara terus-menerus. aku tak
menyadari ada berapa frasa kata, butir air mata dan beberapa genggam permohonan
didalam do’a. Mungkin sebelumnya adalah salahku tak mengunji langkah
kepergianmu. Namun kali ini, kupastikan kebahagiaan akan menguci kita dalam
sebuah kenyamanan. Cinta lama tak selalu membuahkan air mata dan Cinta baru tak
selalu membuahkan kebahagiaan. Terkadang kita harus memastikan, apakah bahagia
akan tercipta bila hati tak ingin pergi? Apakah bahagia akan tercipta bila hati
masih ingin memperjuangkan?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar