Superman Logo Pointer

Sabtu, 14 September 2013

8 minggu = 6 jam

   Sebagai manusia tentu saja aku selalu merasa kekurangan dan tidak puas dalam hal apapun. Beberapa hari yang lalu kamu datang menghubungiku. Seperti biasa, kamu menebar banyak harapan dan membawa banyak janji tanpa ku minta padahal aku sudah bersusah payah berusaha melupakan kamu dengan sejuta kenangan termanis kita dibalik secangkir kopi yang sering kita nikmati diwaktu senja. Tak tahukah kamu? Aku hampir bosan mendengar suara sesedakan dari tangisan yang kubuat sendiri dan kamu adalah sumber penyebabnya. Aku selalu percaya pada apa apa yang keluar dari mulut manismu. Kamu pergi dan aku hanya berdiam menunggumu pulang. Bodoh kah aku?
   Dimalam itu, kamu kembali seakan tak terjadi apa-apa selama 8 minggu kebelakang. Beberapa perbincangan indah hadir diantara kita dimalam itu, telingaku kembali dihujani kata sayang, langkahku kembali mencoba menggapaimu. Cerita cerita bodohnya yang membuatku larut dalam tawa. Aku senang, bahkan begitu senang kamu kembali lagi. Sampai lupa kalau sinar bulan sirik terhadap kita yang selalu punya perbincangan asik dibalik gagang telepon.
“Sekarang kamu tidur, besok siang aku jemput ya”
Aku mengiyakan penuh rasa tenang dan percaya bahwa setelah ini tak akan ada lagi rasa kepedihan tentang kepergian. Cinta memang jalannya penuh duri tapi airmata pasti akan mengembalikan segala apa yang pernah direnggutnya. Sebelum menutup teleponnya aku berbicara penuh ketulusan
“Kamu menghangatkan hatiku yang dingin dengan sesuatu yang kamu sebut sebut sebagai cinta, jangan membuatku mengira cinta adalah sesuatu tentang airmata melulu dengan kepergianmu yang selalu tiba tiba. Selamat malam” kemudian terukir senyum indah diujung telepon.
   Keesokan harinya, pukul 13.30 ia menjemputku, sama seperti apa yang ia katakan ditelepon semalam. Mataku spontan terbelalak melihatnya turun dari mobil mengenakan polo shirt yang pernah kubelikan. Terlihat sangat tampan ia dihari itu, segera aku keluar rumah menghampirinya.
   “Kok ngga ngabarin dulu?”
   “Kamu tau aku kan?”
   “IYAAA! KAMU TUH EMANG PENUH DENGAN KEJUTAN BANGET”
   “Huww dasar, yaudah sana ganti baju aku tunggu. Cepet yaaa”
Sesudahnya, ia mengajakku kesuatu tempat yang menjadi tempat favorit kita berdua. Menghabiskan detik demi detik dengan tawa. Ingin sekali aku menghentikan waktu disaat saat seperti ini. Tawamu yang selama berminggu minggu kurindukan kini terasa nyata, menghangatkan hati yang sebelumnya dingin dan hampir beku. Beberapa kali aku jatuh dalam pelukan, sampai wangi parfumnya menempel dibajuku. Malamku yang selalu kuisi tangisan, kenangan serta ingatan kini terasa terbayar lunas. Kekhawatiranku pun kini terasa impas dengan kekuatan yang ada. Mungkin kemarin aku terlalu sibuk dalam penantian hingga berakhir pada air mata.
 Kudengar ponselnya berdering dan ia segera mengangkatnya.
    “Siapa yang telepon?”
   “Mamah minta tolong dianter kerumah tante”
   “Oh gitu? Yaudah kamu pulang buruan aku bisa naik taksi kok”
   “Ngga usah aku anter aja sayang, ada yang harus aku omongin juga”
Diperjalanan pulang.
   “Jadi, kemarin kemarin kamu kemana aja?” Aku meberanikan diri untuk bertanya karena aku tahu dalam hitungan detik atau menit kedepan ia juga akan membahas tentang ini.
   “Aku ngurus kuliah sayang”
   “Nerusin program S2nya jadi?”
   “Menurut kamu?”
   “Di Aussie?”
Ia hanya membalas dengan anggukan, tatapan matanya penuh arti seakan ada rasa takut hilangnya kepercayaan setelahnya.
   “Aku kira, sekarang kamu didepan aku itu nyata dan selamanya”
   “Aku Cuma nerusin belajar, setelah itu.....”
   “Setelah itu kamu balik?”
   “Iyaaaa aku pasti balik”
   “Balik ngasih harapan setelah itu pergi lagi semau kamu kaya akhir akhir ini?”
   “Kamu sedih ya?”
   “Kamu masih bisa nanya gitu? Kamu pikir aku bisa seneng seneng dengan segudang janji manis yang pernah kamu kasih?”
   “Aku udah memprediksikan ini sebelumnya, kamu pasti marah. Kamu pasti ngga bisa nerima”
Hening tercipta setelahnya. Aku masih berusaha menahan airmata agar tak mendarat dihadapannya.
Sayang, aku hanya ingin terlihat aku kuat didepan kamu, aku akan baik baik saja bila tanpa kamu. Bukan tak bisa menerima. Namun sakit ini semakin mendalam sayang. Memang benar, manusia boleh berencana tapi Tuhan yang menentukan dan kita..... Kita selalu punya rencana, namun rencana yang berakhir menjadi wacana. Kamu memang benar benar penuh kejutan.
Dia yang dulu sempat menjadi bagian dari hidupku, yang telah menyatu dalam nasibku kini telah pergi jauh kesana, entah kemana dan bersama siapa. Mungkin dia akan kembali lagi bukan membawa janji melainkan membawa cerita yang mungkin bisa membuatku gembira atau sedih karena sudah ada orang lain yang berhasil membuatnya menetap dihati dan tanpa pergi untuk menyakiti dengan cara mengkhianati.
8mingguku tetaplah berbuah sia. 6 Jam adalah pertemuan kita yang terakhir tanpa mengucapkan selamat tinggal.
                       Kamu adalah yang pernah ku perjuangkan dan aku adalah yang pernah kamu abaikan.

1 komentar:

  1. That a real life,terkdang apa yg pling kta syg n perjuangkan menjdi yg pling menghancurkan..have a great day :)

    BalasHapus