Ingatkah kamu? kita pernah ada diposisi sangat bahagia dan baik baik saja. Sulit untuk mendesripsikan rasa nyaman yang saat itu kurasakan. Sepertinya kata "kita" belum cukup pantas untuk aku dan kamu, karena aku merasa sangat bodoh pada saat itu tidak meminta status dan kejelasan darimu. Iya, aku terlalu jatuh dalam rasa nyaman.
Rinduku bergetar, degup jantungku melantunkan namamu, mimpiku juga selalu tentang kamu. Benarkah aku ini sedang merasa kehilangan? Kamu ada tapi tak ada. Seusai perbincangan tentang perbedaan diantara kita. Kamu memilih untuk pergi dengan cara menghilang perlahan. Padahal kita belum sama-sama memperjuangkan. Aku percaya, dalam kebahagiaan terselip sebuah tangisan begitupun sebaliknya.
Dipertemuan terakhir kita, kamu masih lah sama seperti kamu yang lalu. Melakukan kebiasaan membelai rambutku, menarik hidungku hingga kemerahan, membenarkan posisi dudukku, sampai membukakan bungkus permen yang hendak kumakan.
Bintang bintang menari indah dimalam itu, aku tahu matamu sangat terjaga untuk memastikan tak ada air mata yang keluar dari mataku.
"Tak ada sesuatu hal yang ingin kamu tanyakan?" Tanyaku dalam pelukmu.
"Sudah terkuras kah rasa rindumu malam ini?"
"Hingga pagi menjelang, akan kupastikan rindu ini tak akan pernah habis"
"Akupun merasakan hal yang sama."
"Lalu apa yang harus dipertanyakan?"
"Apakah harus kita selalu bersama dengan satu perbedaan yang menghalangi kita?"
Mendengar tanyamu, tangisku tak terbendung. Bayanganku sebelumnya tak seperti ini, aku berharap kamu akan tetap memilih disampingku dengan segala perbedaan kita. Malam itu juga aku terakhir merasakan teduh dalam pelukan. Kamu pernah mengatakan "aku mencarimu ketika kamu menghilang tanpa kabar karena aku menganggapmu penting" setelah kejadian malam itu. Aku selalu mencoba untuk tak peduli apapun tentang kamu, berharap ada pesan singkat masuk dihandphone ku dari seorang lelaki yang mencariku karena aku tak mengabarinya. Nyatanya semua hanya harapan, pesan singkat yang kudapat hanyalah sebuah pesan singkat dari operator. Aku hampir gila, apapun yang kulihat selalu ada hubungannya dengan kamu. Atau hanya aku yang terlalu mendramatisir? Semenjak rindu ini menghampiriku, aku hanya bisa mendengarkan lagu yang biasa kita dengarkan berdua, meminum minuman yang biasa kamu minum, selau meneteskan airmata setiap menonton film yang pernah kita tonton berdua sekalipun itu film horor.. Didalam selimut aku berharap ada kamu yang selalu menatap mataku. Mataku terpejam, sebelum terlelap ada air mata kerinduan dan penuh harapan.
"Seusai aku latihan paduan suara digereja, aku akan segera menjemputmu. Jangan tinggalkan 4rakaatnya, ya!" aku mengharapkan ada sebuah suara dibalik telepon mengatakan itu seperti yang biasa aku dengar setiap hari Rabu jam 3 sore.
Pagi datang sama seperti hari kemarin, masih tanpa kamu. Tirai kamar kubuka dengan harapan, aku ataupun kamu akan mempunyai jalan keluar kedepan yang dapat kembali menyatukan. Kini kamu adalah kamu dengan agamamu dan hidupmu, aku adalah aku dengan agamaku, pilihanku dengan hidupmu.
Semoga kita selalu patuh dan taat pada agama kita masing-masing.
Aku menulis karena aku pelupa. Kadangkala, sebuah coretan akan mengingatkan kita pada sebuah kejadian.
Senin, 29 Juli 2013
Minggu, 28 Juli 2013
Sedetik kedepan, aku yakin kamu akan pulang.
Apalah arti pagiku tanpa sapaan darimu didalamnya. Setiap pagi aku terbangun dengan keadaan masih begitu mencintaimu. Apakah aku masih embun disetiap pagimu? Dimataku selalu kamu pagi yang mengembun. Apakah kita cukup kuat untuk hanya maut yang mampu memisahkan? Apa kita telah berada disatu titik bernama kecukupan?
Bukan perihal titik maupun koma, namun ini nyata bahwa aku mencintaimu tak mengenal kata jeda. Aku mencintai setiap kata manis yang keluar begitu saja dari mulutmu
"Setiap hari cinta selalu terasa seperti baru, Memilikimu bukan sekedar aku ingin bahagia tetapi aku juga ingin menjaga yang Tuhan anugerahkan kepadaku. Itulah mengapa mencium keningmu lagi, lagi dan lagi menjadi sesuatu kata harus" Itu salah satu katamu yang selalu aku jadikan kebanggaan.
Dibawah terik matahari. Aku pernah bertanya
"Sayang, apakah ini yang namanya cinta?"
Dengan sigapnya kamu melempar jawaban.
"Jika ini namanya cinta. Kita akan merasa cukup dengan melihat salah satu diantara kita tertawa lepas"
"Lalu? apakah kamu belum merasa ini adalah cukup?" Tanyaku.
"Ini semua mutlak melebihi kata cukup, sayang."
Aku yakin benar bahwa didalam doa kita akan selalu merasa kuat, semesta pun kurasa akan ikut menjaga. Semenjak rumahku tak kedatanganmu lagi. Handphone ku tak menerima sms maupun telepon darimu lagi. Aku tak pernah berfikir untuk pergi terbirit-birit dan berliku-liku untuk melupakanmu. Aku berhenti pada sosokmu yang menjanjikan kebahagiaan untuk kita.
Bisakah aku memohon kepada arah yang menjadi tempatku bersujud, untukmu kembali? Bergegaslah kembali sayang, banyak hal yang harus ku ceritakan padamu. Pada senja yang selalu kita nikmati bersama, aku berlutut menunggu mu kembali pulang untuk merasakan teduhnya kecupan keningmu. Percayalah sayang, namamu akan tetap ada disetiap doaku yang ikut serta melindungimu dari mimpi buruk yang ingin bertamu dimalam hari.
Bukan perihal titik maupun koma, namun ini nyata bahwa aku mencintaimu tak mengenal kata jeda. Aku mencintai setiap kata manis yang keluar begitu saja dari mulutmu
"Setiap hari cinta selalu terasa seperti baru, Memilikimu bukan sekedar aku ingin bahagia tetapi aku juga ingin menjaga yang Tuhan anugerahkan kepadaku. Itulah mengapa mencium keningmu lagi, lagi dan lagi menjadi sesuatu kata harus" Itu salah satu katamu yang selalu aku jadikan kebanggaan.
Dibawah terik matahari. Aku pernah bertanya
"Sayang, apakah ini yang namanya cinta?"
Dengan sigapnya kamu melempar jawaban.
"Jika ini namanya cinta. Kita akan merasa cukup dengan melihat salah satu diantara kita tertawa lepas"
"Lalu? apakah kamu belum merasa ini adalah cukup?" Tanyaku.
"Ini semua mutlak melebihi kata cukup, sayang."
Aku yakin benar bahwa didalam doa kita akan selalu merasa kuat, semesta pun kurasa akan ikut menjaga. Semenjak rumahku tak kedatanganmu lagi. Handphone ku tak menerima sms maupun telepon darimu lagi. Aku tak pernah berfikir untuk pergi terbirit-birit dan berliku-liku untuk melupakanmu. Aku berhenti pada sosokmu yang menjanjikan kebahagiaan untuk kita.
Bisakah aku memohon kepada arah yang menjadi tempatku bersujud, untukmu kembali? Bergegaslah kembali sayang, banyak hal yang harus ku ceritakan padamu. Pada senja yang selalu kita nikmati bersama, aku berlutut menunggu mu kembali pulang untuk merasakan teduhnya kecupan keningmu. Percayalah sayang, namamu akan tetap ada disetiap doaku yang ikut serta melindungimu dari mimpi buruk yang ingin bertamu dimalam hari.
Puluhan bahkan ratusan kilometer.
Usahaku melipat peta agar jarak diantara kita semakin dekat berbuah sia. Jika tangisku dapat menghasilkan uang, mungkin keberadaan kita tak akan sejauh ini, sayang.
Tuhan memang memberikan banyak pilihan, sekalipun aku bisa memilih yang terdekat. Namun aku tetap pada pendirianku untuk memilih seorang lelaki yang tentu saja memperjuangkan aku. Yaitu, kamu. Dalam ragu aku menaruh kepercayaan sebanyak jarak yang harus kamu tempuh untuk menemuiku, selalu ku menitipkan salam kepada senja untukmu, mendoakanmu dari kejauhanpun tak pernah ketinggalan.“Aku punya tubuh untuk memeluk kesepianmu” Katamu, tapi buatku itu hanyalah sebuah wacana. Peduli setan tentang jarak, pada kenyataannya kita selalu mengeluh-eluhkan kejauhan. Memang manusia tak akan pernah merasa cukup, aku contohnya. Buatku Menatap fotomu dan mendengar suaramu melalui telepon tidaklah cukup. Rasa inginku menggebu-gebu untuk selalu bertemu. Akankah kamu baik-baik saja disana saat tak ada aku yang selalu merapihkan kerah bajumu?Aku rindu aktivitas dan kegiatan termanis yang pernah kita lakukan berdua. Aku ingin rebahkan rindu ini pada sebuah lekung senyum kebahagiaan.Tak sabar ku untuk membuatkan mu secangkir kopi penuh cinta, digulungkan lengan bajuku ketika aku hendak wudhu, tak pernah lupa memakaikan seatbelt disaat aku tertidur disebelahmu “Biar nggak kejedot dashboard, kalo aku ngerem hihi” Katamu terekam jelas didalam benak.Segeralah pulang sayang. Rindu ini hampir mencekik diriku.
Tuhan memang memberikan banyak pilihan, sekalipun aku bisa memilih yang terdekat. Namun aku tetap pada pendirianku untuk memilih seorang lelaki yang tentu saja memperjuangkan aku. Yaitu, kamu. Dalam ragu aku menaruh kepercayaan sebanyak jarak yang harus kamu tempuh untuk menemuiku, selalu ku menitipkan salam kepada senja untukmu, mendoakanmu dari kejauhanpun tak pernah ketinggalan.“Aku punya tubuh untuk memeluk kesepianmu” Katamu, tapi buatku itu hanyalah sebuah wacana. Peduli setan tentang jarak, pada kenyataannya kita selalu mengeluh-eluhkan kejauhan. Memang manusia tak akan pernah merasa cukup, aku contohnya. Buatku Menatap fotomu dan mendengar suaramu melalui telepon tidaklah cukup. Rasa inginku menggebu-gebu untuk selalu bertemu. Akankah kamu baik-baik saja disana saat tak ada aku yang selalu merapihkan kerah bajumu?Aku rindu aktivitas dan kegiatan termanis yang pernah kita lakukan berdua. Aku ingin rebahkan rindu ini pada sebuah lekung senyum kebahagiaan.Tak sabar ku untuk membuatkan mu secangkir kopi penuh cinta, digulungkan lengan bajuku ketika aku hendak wudhu, tak pernah lupa memakaikan seatbelt disaat aku tertidur disebelahmu “Biar nggak kejedot dashboard, kalo aku ngerem hihi” Katamu terekam jelas didalam benak.Segeralah pulang sayang. Rindu ini hampir mencekik diriku.
Langganan:
Komentar (Atom)