Superman Logo Pointer

Jumat, 27 September 2013

Keseharianku adalah mencarimu, merindukanmu adalah hal yang menyakitiku.

Kita  sama sama bertahan diatas hubungan tanpa kejelasan, saling diam dalam rasa nyaman dan selalu memasa bodo-kan pentingnya sebuah status. Kadang memang aku merasa tak dianggap. Tapi, rasa bimbang lebih menang dari segala rasa yang ada saat ini. Ingin melanjutkan terus kedepan dan bergandengan tangan tetapi bisa saja ada yang merasakan kesakitan, entah itu aku ataupun kamu nantinya. Namun jika memilih mundur terasa sangat sayang sekali karena terlalu banyak cerita yang sudah dilangkahkan sangat jauh.
“Aku kayak gini karena aku ngga mau kehilangan kamu”
Terasa tak asing telingaku mendengarnya. Selalu ku lempar pertanyaan yang sama seperti biasanya.
“Kamu yakin ngga mau kehilangan aku?”
Dan kamu juga selalu menjawab dengan pertanyaan yang sama.
“Mau sampe berapa ribu kali lagi kamu ngasih pertanyaan itu ke aku?”
“Cewek mengulang pertanyaan yang itu itu aja karena dia nunggu sebuah jawaban yang jelas, tauk!”
“Sebuah jawaban yang jelas atau sebuah jawaban dan kejelasan nih?”
Ah kamu ini... selalu pintar mengondisikan apa apa yang sudah mencapai puncaknya. Pada akhirnya aku kembali lupa soal apa yang harus kita pokok-kan yaitu sebuah kejelasan. Benarkah aku ini terlalu menaruh hati pada hubungan kita? Tapi yang aku rasakan, kamu pun begitu juga. Katamu, bukankah hanya aku yang selalu ada dalam setiap rasa lelahmu dan mau mendengar cerita ceritamu? Bukankah sudah jelas bahwa kita mempunyai perasaan yang sama? Yang tak ingin merasakan kehilangan dan kekecewaan?
“Aku mau tau dong kamu punya doa apa setiap shalat buat kita?” Tanyaku ditengah kesibukanmu yang sedang membuatkanku susu hangat malam itu.
“Itu kan privasi”
“Privasi atau emang kamu ngga pernah ngedoain kita?”
“Kamu selalu punya pertanyaan yang intinya memaksa aku ngejawab yaaa”
Aku hanya menatap mukanya, menantang dengan lugas.
“Aku selalu berharap kalau hati kamu ini ngga terlalu buta buat ngeliat siapa sih yang selalu berjuang dalam hubungan ngga jelas kita ini”
“Persoalan ngga jelas jangan kamu jadiin perkara, toh kamu sendiri yang ngebawa hubungan ini berlarut larut danpergi tanpa terarah”
“Pada intinya, aku ngerasa kalau aku berjuang sendirian disini. Kamu seperti terhanyut dalam nyaman walau tanpa kejelasan”
“Gimana aku ngga nyaman, kamu ngebawa aku kesuatu ruang yang aku ngga ngerti tujuan dan maksudnya. Kamu ini selalu me-nina bobo-kan aku disituasi apapun”
“Kamu sayang sama aku?”
“Kalo aku nyaman, aku udah pasti punya perasaan sayang kekamu”
Terhenti pada suatu pembahasan yang tak menemukan titik klimaks, kamu memilih pergi. Inilah sebuah kejelasan. Kejelasan yang tak pernah terfikir akan terjadi didalam benakku. Kamu memilih pergi dengan sejuta tanda tanya yang tertinggal, memilih diam tanpa arah, memilih untuk menabung luka dalam hatiku, memilih berhenti memperjuangkan apa yang seharusnya sekarang menjadi lebih indah walaupun tanpa mengenal status.
Kamu sibuk mencari rasa nyaman dan aku sibuk mencari sebuah kejelasan. Ternyata kamu memang sibuk berjuang dan mengabaikan sendirian. Dan aku... Aku terlalu mudah menerjemahkan sesaat sebagai cinta yang harus aku perjuangkan dengan sebuah kejelasan.
Nyatanya, sekarang akutak pernah lagi menemukan ruang indah yaitu tatapan bola matamu. Tatapanmu selalu berhasil membuatku menjadi tolol setolol tololnya. Berhenti pada titik bayang semu, bayangan dimana akan teripta sebuah bahagia yang tak terlupa tapi semua kembali kepada kepastian yang kau buat sirna. Mencarimu adalah keseharianku, merindukanmu adalah menyakitiku.

Sabtu, 14 September 2013

8 minggu = 6 jam

   Sebagai manusia tentu saja aku selalu merasa kekurangan dan tidak puas dalam hal apapun. Beberapa hari yang lalu kamu datang menghubungiku. Seperti biasa, kamu menebar banyak harapan dan membawa banyak janji tanpa ku minta padahal aku sudah bersusah payah berusaha melupakan kamu dengan sejuta kenangan termanis kita dibalik secangkir kopi yang sering kita nikmati diwaktu senja. Tak tahukah kamu? Aku hampir bosan mendengar suara sesedakan dari tangisan yang kubuat sendiri dan kamu adalah sumber penyebabnya. Aku selalu percaya pada apa apa yang keluar dari mulut manismu. Kamu pergi dan aku hanya berdiam menunggumu pulang. Bodoh kah aku?
   Dimalam itu, kamu kembali seakan tak terjadi apa-apa selama 8 minggu kebelakang. Beberapa perbincangan indah hadir diantara kita dimalam itu, telingaku kembali dihujani kata sayang, langkahku kembali mencoba menggapaimu. Cerita cerita bodohnya yang membuatku larut dalam tawa. Aku senang, bahkan begitu senang kamu kembali lagi. Sampai lupa kalau sinar bulan sirik terhadap kita yang selalu punya perbincangan asik dibalik gagang telepon.
“Sekarang kamu tidur, besok siang aku jemput ya”
Aku mengiyakan penuh rasa tenang dan percaya bahwa setelah ini tak akan ada lagi rasa kepedihan tentang kepergian. Cinta memang jalannya penuh duri tapi airmata pasti akan mengembalikan segala apa yang pernah direnggutnya. Sebelum menutup teleponnya aku berbicara penuh ketulusan
“Kamu menghangatkan hatiku yang dingin dengan sesuatu yang kamu sebut sebut sebagai cinta, jangan membuatku mengira cinta adalah sesuatu tentang airmata melulu dengan kepergianmu yang selalu tiba tiba. Selamat malam” kemudian terukir senyum indah diujung telepon.
   Keesokan harinya, pukul 13.30 ia menjemputku, sama seperti apa yang ia katakan ditelepon semalam. Mataku spontan terbelalak melihatnya turun dari mobil mengenakan polo shirt yang pernah kubelikan. Terlihat sangat tampan ia dihari itu, segera aku keluar rumah menghampirinya.
   “Kok ngga ngabarin dulu?”
   “Kamu tau aku kan?”
   “IYAAA! KAMU TUH EMANG PENUH DENGAN KEJUTAN BANGET”
   “Huww dasar, yaudah sana ganti baju aku tunggu. Cepet yaaa”
Sesudahnya, ia mengajakku kesuatu tempat yang menjadi tempat favorit kita berdua. Menghabiskan detik demi detik dengan tawa. Ingin sekali aku menghentikan waktu disaat saat seperti ini. Tawamu yang selama berminggu minggu kurindukan kini terasa nyata, menghangatkan hati yang sebelumnya dingin dan hampir beku. Beberapa kali aku jatuh dalam pelukan, sampai wangi parfumnya menempel dibajuku. Malamku yang selalu kuisi tangisan, kenangan serta ingatan kini terasa terbayar lunas. Kekhawatiranku pun kini terasa impas dengan kekuatan yang ada. Mungkin kemarin aku terlalu sibuk dalam penantian hingga berakhir pada air mata.
 Kudengar ponselnya berdering dan ia segera mengangkatnya.
    “Siapa yang telepon?”
   “Mamah minta tolong dianter kerumah tante”
   “Oh gitu? Yaudah kamu pulang buruan aku bisa naik taksi kok”
   “Ngga usah aku anter aja sayang, ada yang harus aku omongin juga”
Diperjalanan pulang.
   “Jadi, kemarin kemarin kamu kemana aja?” Aku meberanikan diri untuk bertanya karena aku tahu dalam hitungan detik atau menit kedepan ia juga akan membahas tentang ini.
   “Aku ngurus kuliah sayang”
   “Nerusin program S2nya jadi?”
   “Menurut kamu?”
   “Di Aussie?”
Ia hanya membalas dengan anggukan, tatapan matanya penuh arti seakan ada rasa takut hilangnya kepercayaan setelahnya.
   “Aku kira, sekarang kamu didepan aku itu nyata dan selamanya”
   “Aku Cuma nerusin belajar, setelah itu.....”
   “Setelah itu kamu balik?”
   “Iyaaaa aku pasti balik”
   “Balik ngasih harapan setelah itu pergi lagi semau kamu kaya akhir akhir ini?”
   “Kamu sedih ya?”
   “Kamu masih bisa nanya gitu? Kamu pikir aku bisa seneng seneng dengan segudang janji manis yang pernah kamu kasih?”
   “Aku udah memprediksikan ini sebelumnya, kamu pasti marah. Kamu pasti ngga bisa nerima”
Hening tercipta setelahnya. Aku masih berusaha menahan airmata agar tak mendarat dihadapannya.
Sayang, aku hanya ingin terlihat aku kuat didepan kamu, aku akan baik baik saja bila tanpa kamu. Bukan tak bisa menerima. Namun sakit ini semakin mendalam sayang. Memang benar, manusia boleh berencana tapi Tuhan yang menentukan dan kita..... Kita selalu punya rencana, namun rencana yang berakhir menjadi wacana. Kamu memang benar benar penuh kejutan.
Dia yang dulu sempat menjadi bagian dari hidupku, yang telah menyatu dalam nasibku kini telah pergi jauh kesana, entah kemana dan bersama siapa. Mungkin dia akan kembali lagi bukan membawa janji melainkan membawa cerita yang mungkin bisa membuatku gembira atau sedih karena sudah ada orang lain yang berhasil membuatnya menetap dihati dan tanpa pergi untuk menyakiti dengan cara mengkhianati.
8mingguku tetaplah berbuah sia. 6 Jam adalah pertemuan kita yang terakhir tanpa mengucapkan selamat tinggal.
                       Kamu adalah yang pernah ku perjuangkan dan aku adalah yang pernah kamu abaikan.